Filed under: Guru ta' marketer
Penulis: Dr. Ir. ZUL BAHREN, MM (VP. Organization IMA Chapter Sulsel)
Perilaku konsumen nyaris tidak bermanfaat dalam dunia monopoli. Lancape bisnis sudah berubah. Lupakan dunia monopoli. Persaingan adalah era bisnis saat ini. Persaingan terjadi dimana-mana. Persaingan ditandai dengan keanekaragaman. Keberagaman manusia. Berbeda budaya, berbeda perilaku, berbeda kebutuhan dan berbeda keingingan. Perilaku konsumen terasa semakin dibutuhkan di zaman kompetisi. Keberagaman juga terjadi dengan bermunculan banyak produsen. Kini produk makin terdiffrensiasi. Ada produk umum, ada produk kualitas. Produk dengan berbeda ukuran, berbeda bentuk, berbeda warna, berbeda kemasan. Ada produk ditawarkan dengan berbagai keunggulan, produk isi ulang, dsb, sehingga konsumen semakin banyak pilihan. Bergaining konsumen semakin tinggi. Perilaku konsumen semakin diperlukan dengan bermunculan banyak produsen. Saat ini moda penjualan sangat bervariasi. Ada penawaran massal, ada toko discount, ada swalayan murah, penawaran dengan direct marketing, belanja melalui TV, sampai kepada belanja on-line via internet. Perilaku konsumen juga semakin diperlukan dengan membanjirnya penjual. Promosi semakin marak. Mulai dari iklan tradisional, informasi melalui getok tular dari mulut ke mulut, iklan lewat media cetak, media elektronik sampai kepada promosi melalui situs web internet. Perilaku konsumen semakin dicari karena maraknya periklanan.
Untuk apa para marketer mengenali perilaku konsumen? Dengan memahami perilaku konsumen para pemasar akan memahami bagaimana konsumen melakukan proses pembelian. Apa saja yang dilakukan konsumen sebelum mereka melakukan pembelian. Tahapan-tahapan apa saja yang terjadi sampai seorang konsumen mengambil keputusan untuk membeli.
Ada 5 kunci utama yang harus dipahami oleh para marketer agar mereka mengenali perilaku konsumennya.
Pertama : Para marketer harus memahami segmentasi pelanggan. Mereka harus melakukan segmentasi konsumennya, yaitu dengan melakukan pengelompokan konsumen berdasarkan ciri-ciri yang sama. Pengelompokan ini dapat dilakukan berdasarkan wilayah geografis, berdasarkan usia, jenis kelamin, pendidikan, pekerjaan ataupun pendapatan.
Kedua : Para marketer harus memahami sosial-budaya dari kosumennya. Mulai dari keluarga, kelompok refrensi, kelas sosial, suku, ras, agama budaya maupun lintas budaya. Sebagai contoh Extra Joss merajai produk katagori energy drink untuk kemasan sachet. Tetapi di Medan Extra Joss tidak mau dikonsumsi orang. Setelah diteliti ternyata Extra Joss menggunakan tagline iklan ”Ini biangnya…” Kata ini diartikan oleh orang Medan ” ini anjingnya…” Ketika Extra Joss di lalunching dengan tagline tersebut sukses dimana-mana, tetapi di Medan tidak. Kenapa? Karena kata ”biang” di Medan berarti ”anjing”. Bagi marketer yang jeli ada beberapa perilaku masyarakat sulsel yang dapat dijadikan peluang pasar, misalnya masyarakat sulsel suka memberi dan diberi. Jika ingin sukses produknya digunakan konsumen sebaiknya pemasar dan penjual memberikan dulu dalam bentuk hadiah sebelum menjualnya ke konsumen. Masyarakat sulsel juga sangat antusias dengan ha-hal baru apalagi jika dikemas dengan iklan yang besar. Biasanya beramai ramai melakukan pembelian terhadap produk baru. Ini dapat menjadi peluang.
Ketiga : Kemudian marketer harus memahami phsikologi konsumen. Apa saja motivasi konsumen . Bagaimana keperibadian mereka. Apa sikap konsumen terhadap produk kita dan bagaimana konsumen melakukan proses belajar tentang produk. Misalnya dalam iklan pampers popok bayi di TV, warna kotoron bayi kenapa dibuat berwarna ”biru” mengapa tidak berwarna ”kuning” atau pada iklan pembalut wanita digambarkan cairannya bukan berwarna ”merah”, tetapi berwarna ”biru”. Ini berhubungan dengan pskikologi konsumen. Apabila digambarkan dengan warna aslinya justru dapat menimbulkan rasa jijik bagi konsumen. Konsumen tidak akan respek terhadap produk anda. Demikian pula kenapa iklan produk baru ditayangkan berulang-ulang baik di TV maupun di radio. Ini adalah pembelajaran konsumen. Dari hasil penelitian menunjukkan bahwa orang yang belajar mengetahui sesuatu, termasuk produk baru secara sungguh-sungguh dia memerlukan 1 s/d 3 kali pengulangan. Sedangkan konsumen yang tidak sungguh-sungguh ingin mengetahui perlu dijejali 8 s/d 12 kali pengulangan agar melekat dibenak mereka. Sebaliknya kenapa produk yang sudah lama tetap harus diiklankan, ditayangkan di TV dan radio atau media cetak, tetapi dengan rentang waktu yang relatif lebih lama dan tidak sesering produk baru. Dari hasil penelitian menunjukkan umumnya ingatan manusia hanya bertahan sekitar 6 minggu. Apabila ingatan konsumen tidak dilakukan update konsumen akan lupa berganti dengan yang baru. Pikiran manusia seperti gelas. Apabila masuk informasi baru yang lama akan tumpah dan menghilang. Oleh sebab itu perlu diisi ulang.
Keempat : Untuk menghubungakan antara phsikologi konsumen dengan lingkungan sosial-budayanya para pemasar harus memahami komunikasi konsumen. Siapa sebagai menyampai pesan. Apakah anggota keluarga, teman dekat, tokoh masyarakat, seorang pakar ataupun selebritis. Kemudian Siapa yang menjadi audien, sangat ditentukan oleh demografi konsumen, seperti umur, gender dan status perkawinan atau sosial-budaya kosumen, kelas sosial, suku, ras dan agama konsumen. Selanjutnya bagaimana isi pesan yang ingin disampaikan, media apa yang cocok digunakan. Apakah melalui media cetak, elektronik atau penyampaian langsung. Dan tidak kalah pentingnya adalah umpan balik atau feedback. Feedback dapat dilakukan dengan survey, mengelola keluhan atau melalui kotak saran.
Kelima : Bagian terakhir yang harus dipahami marketer adalah Proses pengambilan keputusan pembelian. Bagian ini merupakan kombinasi dari keempat aspek sebelumnya, yaitu aspek marketing, aspek sosial-budaya, aspek phsikologi dan aspek komunikasi. Proses ini ada 3 tahap, yaitu : pengenalan kebutuhan, penelitian sebelum membeli dan penilaian alternatif. Misalnya seorang manajer wanita belakangan ini menghadapi pekerjaan menumpuk dikantor. Agar pekerjaannya dapat diselesaikan ia mengambil keputusan untuk menyelesaikan pekerjaannya dirumah. Untuk itu ia perlu komputer notebook. Sebelum membeli terlebih dahulu ia perlu melakukan penelitian. Pertama-tama dengan mengingat-ingat notebook yang pernah dikenalnya sebelum mencari informasi melalui iklan, dari teman dan koleganya atau dari agen penjual. Setelah diperoleh data baru manager tersebut melakukan penilaian alternatif tehadap beberapa pilihan yang terbaik. Kemudian baru memutuskan untuk membeli. Bagaimana konsumen melakukan proses adopsi terhadap produk juga merupakan hal yang perlu diketahui? Kenapa ada produk yang cepat diterima konsumen, seperti telepon tanpa kabel? Sementara ada produk yang memerlukan waktu bertahun-tahun dan ada yang tidak diterima sama sekali oleh konsumen. Ini menyangkut proses adopsi. Contoh kasus produk tidak diterima konsumen, yaitu kasus mobil Mazda MR, terjadi pada tahun 1990-an. Sebenarnya kenderaan ini cukup bagus dan murah, tetapi kenapa tidak diterima oleh konsumen. Rupanya singkatan MR adalah ”Mobil Rakyat”. Konsumen Indonesia tidak suka dengan sebutan rakyat karena pengertian rakyat terlalu jelata dan rendah. Dengan sebutan MR, mobil itu dipersepsi sebagai kenderaan rakyat jelata, rakyat kelas rendah. Padahal di Jerman sebutan mobil VW volkswagen atau mobil rakyat tidak menjadi masalah.
* saat ini penulis bekerja pada CAM Manager PT Telkom, Tbk Makassar, dapat di hub via email: bahren@telkom.co.id
Filed under: Uncategorized
Judul diatas sama sekali tidak bermaksud untuk mengulas atau meng-kampanye-kan Calon Gubernur Sul-Sel yang saat ini sedang giat ber-promosi. Saya hanya terinspirasi dari tulisan seorang pakar bahasa Indonesia pada sebuah media nasional, bahwa orang Indonesia lebih cepat mengenal kata atau merek yang terdiri dari dua suku kata. Mirip dengan strategi pembuatan merek yang menganjurkan menggunakan kata sederhana agar mudah diingat, mudah dibaca dan ditulis.
Faktanya, berbagai merek yang sukses dipasar ternyata membuktikan strategi dua suku kata tadi. Contoh sederhana, koran yang sedang Anda baca ini FAJAR terdiri dari dua suku kata. Bandingkan jika koran ini bernama FAJAR BARU, pasti daya tangkap kita akan berbeda dibanding merek yang pertama. Berbagai merek yang menguasai pasar seperti; NOKIA, HONDA, SONY, NIKON, SHARP, ACER dan lain-lain. Beberapa merek lokal-pun juga menganut strategi ini seperti; warkop PHOENAM, warkop UGI, minyak gosok cap TAWON, kacang AYAM.
Lantas bagaimana dengan merek yang menggunakan lebih dari dua suku kata? Tentu saja tetap bisa sukses dipasar dengan menggunakan berbagai strategi. Yang pasti effort dan waktu yang digunakan akan berbeda. Sebagai contoh, YAMAHA yang baru saja sukses menjadi market leader di awal tahun ini setelah melewati masa yang cukup panjang menghadapi dominasi Honda.
Beberapa merek yang panjang menggunakan strategi singkatan agar lebih mudah dikenali dan diingat. Presiden Indonesia Bpk. Susilo Bambang Yudhoyono disingkat SBY, merek Hawlett Packard disingkat HP, Studio 21 disingkat TO, Mc Donald dikenal dengan McD, Kentucky Fried Chicken menjadi KFC, jalan Botolempangan disingkat Botlem, Mal Ratu Indah menjadi MARI, Mal Panakkukang menjadi MP, PT. Telekomunikasi Indonesia dikenal dengan TELKOM, Excelcomindo disingkat XL, Ujungpandang Ekspress menjadi UPEKS dan lain sebagainya.
Kembali ke judul diatas, saya yakin Tim Sukses Cagub telah memikirkan berbagai strategi untuk menguasai benak calon pemilih. Termasuk strategi pemilihan singkatan bagi nama calon untuk menjadi materi promosi. Konsep memasarkan Cagub adalah personal branding strategy. Karena nama Cagub juga sama dengan merek. Sehingga menjadi penting untuk mempelajari dan meng-implementasi-kan konsep personal branding ini. Perlu diingat bahwa dalam pemasaran, tiada lain bertujuan menciptakan persepsi terhadap merek untuk masuk ke benak pasar (mind share) hingga menguasai hati pemilih (heart share).
Mengapa heart share? Karena para pemilih kita adalah pasar yang rasional dan akan bertindak sesuai dengan hati nuraninya. Selamat merebut hati pasar.
Penulis: Sabri Rasyid
Sekjen IMA Sulsel
http://sabrirasyid.wordpress.com/2007/06/27/strategi-kampanye-pilkada-sul-sel/
Filed under: Uncategorized
IMA Chapter Sulsel dikepengurusan baru ini mengadakan program kerja bulanan yaitu dinamakan marketing corner.
Program kerja yang dibawah divisi Seminar, excebition, and traning ini menyajikan diskusi bulanan yang menjadi program kerja rutin. Diskusi ini memiliki format studi kasus pemasaran yang menarik dikaji. Pembicara adalah orang-orang yang kompeten dan berlatar belakang marketer. Pembicara tersebut mengangkat kasus pemasaran yang mereka hadapi kemudian dipaparkan dalam sebuah makalah dan bahan diskusi bulanan. Selain itu dihadirkan pula kalangan akademisi (dosen) dibidang pemasaran untuk menambah kedalam perspektif dibidang teoritis dan empiris.
Tujuan dari marketing corner ini adalah;
Tujuan kegiatan :
- Sebagai wadah bagi para pemasar di okta Makassar (Sulawesi Selatan) untuk terus menerus meng-update pengetahuan dan keterampilan marketing.
- Membangun sebuah komunitas pengetahuan (knowledge community) khususnya dibidang pemasaran yang akan memberi manfaat tidak hanya anggota IMA tetapi juga terhadap masyarakat bisnis melalui sharing pengetahuan.
- Membangun kesadaran bagi pebisnis di kota Makassar bahwa penerapan ilmu pemasaran yang moderen dan etis akan bermanfaat bagi kelangsungan hidup serta peningkatan daya saing dalam praktek bisnis sehari-hari.
- Terbentuknya sebuah buku yang disarikan dan padukan dari hasil diskusi yang berlangsung. Buku tersebut bertemakan kumpulan-kumpulan hasil diskusi rutin dan menjadi bahan referensi bisnis bagi masyarakat umum.
- Meningkatkan branding anggota IMA dan perusahaan yang bergabung didalam jaringan (networking) IMA tidak hanya di tingkatan nasional tetapi juga internasional.
IMA Mengajak beberapa pihak untuk berkerja sama yakni dengan mengandeng Toko buku Gramedia Mall Diamond di Panakukkang sebagai parnert. BEntuk Kerja samanya meliputi pihak gramedia memberikan space tempat di Hall, dan fasilitas pendukung lainnya untuk kegiatan diskusi buku.
IMA tim marketing corner terdiri dari
TIM MARKETING CORNER
Steering committee (Tim Strategist)
Pahala P Hariandja (President Chapter IMA Sulsel)
Sabry Rasyid (Sekjen IMA Sulsel)
Muh. Akbar (Internal Communication Director)
Syarifuddin Arief (Assisten VP Organization IMA Chapter IMA)
Tommy Amarja S (Seminar, Training, ad exhibition Director IMA Sulsel)
Andi M Nur BM (membership and Planning Director IMA Sulsel)
Executor Committee (tim eksekusi)
Project Manager: Jamal S.Sos (Project Manager Marketing Corner)
Tim Kerja:
Ilham Nur Putra
Suci Megwasari Putri
Etha Gustin
Yudi Adhytama
Meriyanti Bumbungan
Rara Kuswara Djusli
Arif Ashari
Tim Mqarkeitng corner membuka juga kesempatan bagi pengurus IMA Chapter Sulsel untuk menjadi pembahas dan pembicara pada diskusi rutin bulan berikutnya.
Salam marekting
Filed under: Even & agenda IMA Sulsel
Blue Ocean Stratgey- Ciptakan pasar baru dan keuntungan Anda sendiri.
IMA Chapter Sul Sel kembali mengadakan kegiatan diskusi bulanan. Bertempat di Hall Toko Buku Gramedia Mall Dioamond (Panakukkang), Tim Marketing Corner kembali mempersembahkan diskusi pemasaran (bisnis) yang menarik dengan menghadirkan praktisi pemasar yang terbaik dikota Makassar. Beliau adalah Muh.Akbar (Ketua STIKOM Fajar dan A.M.Yusvan Paris, SH, MBA (Direktur LP3I Makassar) pada hari dan tanggal sabtu, 25 Septerber 2007 pukul 15.00wita.
Muh Akbar yang dikenal aktif jadi penulis kolom pemasaran di Harian Fajar, dan host Marketing Magic TalkShow- pada stasiun Makassar TV tiap hari kamis jam 19.00 akan memaparkan pemikiran dasar dari Blue Ocen Strategy yang diangkat dari buku karya W. Chan Kim dan Renée Mauborgne, 2005, berjudul Blue Ocean Strategy, terbitan Harvard Business School Publishing Corporation, Boston. Latar belakang sebagai akademisi akan membantu peserta memahami konsep dasar dari BOS (Blue Ocean Strategy) ini.
IMA menghadirkan pula A.M.Yusvan Paris, SH, MBA, yang merupakan direktur LP3I Makassar. Beliau akan banyak berbicara pada tataran aplikasi persaingan bisnis khususnya di sektor pendidikan dan bagaimana penerapan blue ocean strategy dikota makassar.
Bila Anda pengusaha yang ingin mengembangkan sutau produk baru pada masyarakat, seorang pemasar (marketer) disebuah perusahaan, atau pengusaha yang baru saja merintis usaha, ataupun masyarakat umum yang tertarik dibidang pemasaran,
Marketing Corner IMA mengajak Anda bergabung diacara kami yang dilaksanakan pada hari/tanggal sabtu 25 agustus 2007 pukul 15.00wita bertempat di Hall Toko Buku Gramedia Panakukkang Mall Diamond
*) sekretariat IMA
Filed under: Uncategorized
* Catatan dari Seminar “Innovate or Die”
SABTU, 23 Juni pagi, Alamanda Ballroom Hotel Imperial Aryaduta Makassar, dipadati ratusan orang dari berbagai latar belakang. Ada dari dunia perbankan, media, olahraga, kesehatan, pendidikan, dan lain-lain. Mereka berkumpul untuk mendapatkan pengetahuan tambahan mengenai marketing atau pemasaran. Laporan Ramah Praeska
PENGURUS Indonesia Marketing Association (IMA) Chapter Sulsel yang baru saja dikukuhkan, langsung menggelar seminar bertajuk “Innovate or Die”. Seminar itu, mengupas lebih dalam mengenai kiat sebuah perusahaan agar produknya tetap laku di pasaran. Intinya, dibutuhkan inovasi dalam memasarkan produk itu.
Namun, produk akan laku terjual jika ditunjang marketing yang baik. Seperti yang diutarakan Presiden IMA Chapter Sulsel periode 2007-2010, Pahala P Hariandja bahwa marketing merupakan cara yang paling tepat dalam memenuhi kebutuhan seseorang atau customer.
“Marketing merupakan profesi paling mulia, yang akan tetap ada sampai kapan pun. Malah, marketing adalah profesi paling tua di dunia, sudah ada sejak zaman Adam-Hawa,” katanya.
Menurut dia, satu hal yang perlu diperhatikan para pengusaha untuk bersaing dalam pemasaran, yakni berusaha untuk menjadi paling unik dan beda dengan lainnya. Namun, semua itu, hanya bisa terwujud bila ada inovasi.
“Untuk menciptakan sebuah produk unik yang laku keras di pasaran, maka diperlukan inovasi. Tentu saja, kita harus mengetahui inovasi seperti apa yang bisa dijual di pasaran,” papar Pahala.
Sekjen IMA Pusat, Yuswohady, mengemukakan, ada tujuh ide dalam inovasi pemasaran. Tujuh ide itu adalah anthropology, convergence (penggabungan produk), democratize (melibatkan kostumer), blue ocean market, grameen (lirik segmen miskin), hole (menutup lubang di perusahaan), dan icon.
“Jika mampu menciptakan sebuah produk hasil inovasi, maka perusahaan tidak perlu lagi mengeluarkan cost besar untuk promosi. Bahkan, kalau perlu tidak ada sama sekali biaya yang dikeluarkan. Customer sendiri yang akan mencari produk itu, karena memang sangat dibutuhkan,” ucapnya.
Ia menambahkan, sebuah perusahaan akan tetap eksis, jika melakukan inovasi terus menerus. Sebaliknya, bila tidak mampu lagi membuat inovasi, maka perusahaan itu akan bangkrut atau mati dengan sendirinya.
Tak ayal, kata dia, dibutuhkan orang “gila” dalam menciptakan produk yang bisa diterima di pasaran. Seperti yang dilakukan Steve Job, selaku pemilik perusahaan Apple,– sebuah perusahaan paling inovatif di dunia. Steve, kata Yuswohady, selalu membuat produk unik berkat “kegilaannya”. Seperti menciptakan ipod, handphone, dan komputer canggih.
Sementara itu, Direktur Utama (Dirut) PT Media Fajar Group yang juga Board of Advisor IMA Chapter Sulsel, HM Alwi Hamu, mengatakan, untuk menjadi market leader memang dibutuhkan orang “gila”. Semua itu sangat diperlukan dalam mencapai goal atau tujuan perusahaan.
“Seperti yang pernah saya lakukan di Palangka Raya, Kalimantan Tengah, menerbitkan sebuah koran beberapa waktu lalu. Dulu, sebelum ada koran masuk, masyarakatnya malas beraktivitas pada malam hari. Bila sudah masuk pukul 20.00 Wita, Palangka Raya seperti kota mati. Tetapi, setelah koran berhasil saya terbitkan di sana, pada pukul 23.00 Wita, masyarakatnya masih beraktivitas. Sekarang ini, sudah sangat banyak pedagang kaki lima dan sebagainya,” terang Alwi Hamu, yang menjadi keynote speech, pada seminar itu.
Koordinator Staf Khusus Wapres ini menambahkan, terkait pemasaran di Indonesia umumnya dan di Sulsel khususnya, masih seperti yang dulu. Inovasi belum berkembang. Hanya melakukan penjualan (sale) saja.
“Makanya, harus lebih aktif, terutama pemasar dan calon pemasar. Ide dan image harus dipasarkan,” sarannya.
* Pengurus Baru
Selain seminar, kemarin juga dilakukan pelantikan pengurus IMA Chapter Sulsel periode 2007-2010. Para pengurus dilantik Sekjen IMA Pusat, Yuswohady. Pengurus IMA Chapter Sulsel yang dilantik, terbilang gemuk, yakni mencapai 61 orang dari latar belakang berbeda-beda.
Nama-nama seperti Sabri Rasyid (General Secretary), Muhammad Hasbi (Executive Secretary), Muhammad Mada (General Treasure), Yusvan Paris (Vice President HRD), Muh Akbar (Internal Communication), dan Faisal Syam (External Communication Director), tercatat sebagai pengurus.
Board of Advisor IMA Chapter Sulsel, HM Alwi Hamu, yang ditemui usai pelantikan menjelaskan, IMA merupakan organisasi untuk menghimpun para pelaku marketing.
“Saya berharap, pengurus IMA Sulsel lebih sering melakukan pertemuan. Siapa tahu, dari situ muncul ide-ide baru untuk melakukan sebuah inovasi. Tentunya, juga saling bertukar ide,” harapnya. (*)
Sumber: www.fajar.co.id (fajar Online)
Filed under: Uncategorized
Welcome to WordPress.com. This is your first post. Edit or delete it and start blogging!


