Blognya Marketer Sul-Sel


Hot News by tommyamarja

MARKETING OUTLOOK 2010

Penulis : ANSHAR DAUD

Sekjen Indonesia Marketing Association (IMA) Chapter Sul-Sel

Dalam cerah langit ekonomi 2010, terselip “uncertainty” sebagai sebuah normalitas baru.

Butuh kejelian dan eksekusi marketing yang jitu pada setiap signal perubahan dipasar,

Kejujuran dan transparansi menjadi daya saing baru dan langka dalam era marketing 3.0.

Menjelang tutup tahun 2009, sinyal pemulihan ekonomi global berangsur-angsur menguat. Indikasi perbaikan yang paling tampak terjadi di negara-negara emerging market Asia, khususnya China dan India. Sementara sejumlah negara maju juga menunjukkan perbaikan yang memadai sehingga proyeksi ekonomi tahun 2010 bergerak kearah positif. Jika selama 2009 ekonomi dunia diprediksi tumbuh negatif 1,1% maka di 2010 angkanya cenderung optimis diposisi 3,1% (data IMF, Oktober 2009). Indonesia sendiri sekalipun turut merasakan guncangan krisis ekonomi dunia, namun tetap mampu survive dengan kisaran pertumbuhan 4,3% dan inflasi sekitar 3%. Memasuki tahun 2010, semua pihak sepakat bahwa ekonomi Indonesia akan tumbuh lebih baik dengan angka 5,4% hingga 5,9% dan laju inflasi 4,5% sampai 5,5%. Sektor transportasi, telekomunikasi dan utilitas dipercaya menyumbang kontribusi dua digit. Sedangkan sektor keuangan, jasa, perdagangan dan konstruksi tumbuh lebih dari 5% namun tetap satu digit. Sementara itu sektor-sektor lainnya seperti pertambangan, manufaktur dan pertanian juga mengalami growth positif dengan laju kurang dari 5%. Perbaikan ekonomi dalam skala nasional tentu merupakan agregat dari pertumbuhan ekonomi yang terjadi di daerah baik pada level kabupaten dan kotamadya maupun provinsi. Provinsi Sulawesi Selatan sebagai salah satu kontributor pertumbuhan ekonomi di daerah tahun 2009 mampu mencatat growth pada kisaran 7%. Karena itu cukup logis jika asumsi pertumbuhannya di 2010 di setting pada angka 7,5% sampai 8%.

Untuk mendukung dan menguatkan keyakinan kita terhadap indikator makro tersebut dan cerahnya iklim usaha ditahun 2010, coba kita simak temuan survey Markplus Insight yang dilaksanakan bulan Juli dan November 2009. Dalam laporannya disebutkan bahwa 76,8% responden setuju bahwa kondisi ekonomi 2010 lebih baik dari 2009, 3% sangat baik, 14,9% menyatakan kondisinya sama saja dan hanya 1,8% menganggapnya lebih buruk. Survey juga dilakukan untuk mengidentifikasi daya beli konsumen 2010, hasilnya adalah 9,1% berpendapat sangat tinggi, 60% tinggi, 21,8% biasa saja, 7,3% rendah dan 1,2% rendah sekali. Temuan survey yang lain adalah mayoritas pelaku usaha (marketer) sepakat untuk meningkatkan aktifitas marketing-nya dalam enam bulan kedepan baik yang terkait dengan penjualan, biaya pemasaran, intensitas promosi maupun proses distribusi produk. Bidang-bidang usaha yang dipandang prosfektif dan memiliki tren pertumbuhan yang tinggi sepanjang 2010 adalah telekomunikasi, consumer goods, property, otomotif dan retail.

Secara makro maupun mikro situasi bisnis cukup kondusif (the sky looks brighter) sehingga dapat menjadi bekal dan pijakan awal bagi setiap pelaku usaha dalam menyusun action plan tahun 2010.  Action plan ini dapat berupa dokumen  umum seperti rencana kerja dan anggaran (RKA) ataupun file khusus sejenis cetak biru pemasaran (marketing plan). Ada atau tidaknya marketing plan yang komprehensif  bukanlah sebuah masalah yang patut diperdebatkan karena bagaimanapun juga unit yang bertanggung jawab terhadap pemasaran pasti telah memiliki rencana. Substansi yang urgent dan perlu menjadi fokus perhatian adalah sejauh mana orang-orang marketing dalam perusahaan mampu menangkap dinamika setiap signal perubahan yang terjadi di pasar dan meresponnya secara cepat dan akurat. Salah membaca signal dan reaksi yang lambat serta solusi yang tidak tepat adalah bumerang bagi perusahaan manapun dan pasti berimplikasi terhadap sustainability-nya.

Mengingat bahwa perang yang sesungguhnya terjadi di sekitar kita sehari-hari adalah perang pemasaran, maka siapapun Anda dan apapun jenis bisnis yang digeluti sangat perlu untuk memahami tren pemasaran yang tengah berlangsung dan bakal terjadi di tahun 2010. Pemasaran sebagai sebuah disiplin ilmu mengalami transformasi menyesuaikan diri dengan perubahan yang terjadi dalam kehidupan sosial masyarakat. Masyarakat mengenal zaman, begitu pula dengan marketing. Dahulu orang membeli barang (produk / jasa) berdasarkan azas manfaat (rational benefit), pertimbangan utamanya adalah harga dan kualitas. Zaman (orde) ini dinamakan sebagai era rational marketing atau orde marketing 1.0. Seiring perjalanan waktu dan perubahan life style konsumen, maka mereka beranggapan bahwa harga dan kualitas sudah bersifat given dan merupakan entitas yang mutlak melekat pada produk / jasa. Atribut yang menjadi fokus perhatian adalah kemampuan produk dalam meningkatkan citra dan harga diri, memenangkan hati dan ego konsumen. Ini adalah eranya emotional marketing atau orde marketing 2.0. Timbulnya beragam krisis ekonomi dan kemajuan teknologi khususnya telekomunikasi memicu kesadaran baru bagi masyarakat dunia akan pentingnya arti kejujuran dan transparansi. Kejujuran dan tranparansi adalah resource yang langka dan mampu menjadi daya saing perusahaan dalam jangka panjang dan sulit ditiru. Kejujuran inilah yang menjadi spirit lahirnya orde baru marketing, yaitu spiritual marketing (human-spirit marketing) atau marketing 3.0.

Legacy Marketing, era pemasaran rasional (marketing 1.0) dan emosional (marketing 2.0) dapat disebut sebagai pemasaran orde lama (legacy marketing). Perselisihan antara RS Omni dan Prita Mulyasari adalah contoh yang gamblang tentang praktek legacy marketing. Dalam konteks ini aktifitas pemasaran bersifat vertikal, birokrat, satu arah, produsen adalah subjek dan konsumen diperlakukan sebagai objek pemasaran. Instrumen utamanya adalah marketing mix (product, price, promotion & place) dan hanya sedikit perusahaan yang memanfaatkan unsur strategi (Segmentasi, targeting & positioning) dan Value (Branding, Process & Service) pemasaran. Produk kategori komoditi seperti sembako, hasil pertanian, perkebunan, perikanan, sebagian FMCG dan barang / jasa sejenis lainnya yang tidak mengandalkan merek (brand) masih relevan menggunakan pola marketing 1.0. Fokusnya adalah bagaimana menjaga kesesuaian antara harga, kualitas, kemasan dan pasokan sehingga konsumen memperoleh manfaat yang sebanding dengan nominal uang yang harus mereka bayar. Produk otomotif, properti, elektronik, tekstil dan branded goods lainnya dapat tetap memanfaatkan era marketing 2.0 dengan lebih menekankan eksplorasi aspek strategi dan value marketing serta memulai penjajakan untuk memasuki orde marketing 3.0.

New Wave Marketing, orde baru pemasaran (new wave marketing) atau marketing 3.0 bukan berarti era pendahulunya sama sekali ditinggalkan dan tidak berlaku lagi. Marketing 3.0 justru merupakan penyempurnaan dari era sebelumnya, sehingga khazanah marketing lebih kaya, lengkap dan mampu memanusiakan konsumen. Produsen dan konsumen berada dalam posisi yang setara, memiliki saling ketergantungan, komunikasi berlangsung dua arah sehingga dapat terbangun kemitraan dan hubungan yang bersifat horizontal. Masing-masing pihak (penjual dan pembeli) mempunyai akses terhadap informasi yang berimbang sehingga dapat terjalin negosiasi yang fair, jujur dan transparan serta win-win solution. Kemajuan teknologi wireless mobile dan internet merupakan driver utama lahirnya konsep marketing 3.0. Eksistensi telepon seluler membuat sebagian besar orang dapat terhubung (connect) dengan siapapun, kapan dan dimanapun mereka berada. Fenomena mobile and connect menjadi lebih bergairah dengan berkembangnya internet web 2.0 dan memicu munculnya social media seperti Facebook, MySpace, Twitter, Kaskus dan sejenisnya. Ciri konsumen Indonesia adalah senang berkumpul dan curhat (sharing). Gemar ngumpul dan curhat ini menjadi gayung bersambut melalui media sosial dan piranti mobile.  Dulu konsumen ngumpul di arisan, pengajian, pesta / hajatan, organisasi sosial / profesi dan lain-lain. Sekarang, tempat ngumpulnya migrasi ke dunia maya Facebook, Twitter, Kaskus dan sebagainya. Disana mereka membangun koloni dalam bentuk grup-grup komunitas (community) sesuai interest, hobby, icon, issue dan seterusnya. Kedahsyatan online community terlihat jelas dalam kasus Cicak vs Buaya dan Koin Prita, mereka sanggup memobilisasi opini, dukungan, sumber daya dan massa dalam waktu yang sangat singkat. Fakta ini membuktikan bahwa era marketing 3.0 sudah tiba dan mengharuskan para marketer untuk memahami dan menggelutinya. Keywords marketing 3.0 adalah mobile and always connect, mampu melebur dalam offline dan online communities dan perusahaan mempunyai flatform yang bisa mengakomodasi proses komunitisasi konsumen. Karakter Marketer 3.0 adalah mobile (gaul) sehingga mampu merekatkan diri dengan all stakeholders-nya (konsumen, supplier, regulator, asosiasi, kompetitor, YLK / LSM) melalui community offline dan online.

UMKM dan Pasar Bebas 2010, Meskipun awan cerah bakal menyertai ekonomi tahun 2010 namun bukan berarti jalannya bebas hambatan. Benar bahwa “the sky looks brighter” tetapi dibaliknya terselip ketidakpastian, “uncertainty is the new normality”. Kasus Bank Century sejauh ini keliatannya masih normal dan terkendali, namun didalamnya tertanam benih goncangan politik jika dana bailout terbukti mengalir ke partai tertentu. Berikutnya implementasi kesepakatan pasar bebas intra Asean (Indonesia, Singapura, Malaysia, Thailand, Filipina dan Brunei Darussalam) dan Asean dengan China tanggal 1 Januari 2010 berpotensi merontokkan daya saing industri dalam negeri terutama UMKM. Hal substansial lainnya dan perlu mendapat atensi dari korporasi adalah isu-isu yang terkait dengan lingkungan dan bencana alam. Patut disadari bahwa pasar memiliki dinamika dan kompleksitas yang tinggi, pemicu ketidakpastian dan krisis bukan variabel normatif semisal regulasi dan supply-demand, melainkan faktor ekspektasi, asumsi-asumsi, spekulasi para pelaku pasar dan intervensi penguasa.

Potret ekonomi, temuan survey Markplus Insight,konsep dan analisis marketing sebagaimana diuraikan di atas merupakan pra kondisi yang baik bagi dunia usaha dalam menyongsong dan memasuki tahun 2010. Mari satukan tekad, spirit dan optimisme yang tinggi dalam menjalankan putaran roda ekonomi bangsa secara optimal sekecil apapun peran yang dilakoni untuk Indonesia yang lebih maju dan kompetitif dalam kancah pasar global, (admaleo@gmail.com).

VALUE PRICING

penulis : Anshar Daud,Sekjen IMA Chapter Sulsel

Seorang teman saya sering mengeluh tentang kesulitan dia mendisiplinkan karyawannya, terutama ketika mengundang mereka untuk melakukan meeting, seminar, rapat atau kegiatan sejenisnya. Berbagai upaya telah dia lakukan agar peserta yang diundang bisa hadir tepat waktu, tetapi hasilnya tetap saja ada yang terlambat.

Dia kadang merasa heran, karena rata-rata mereka yang terlambat umumnya menggunakan jam tangan. Bahkan sebagian besar memakai jam tangan merek terkenal dengan harga ratusan ribu hingga jutaan rupiah. Suatu hal yang sangat mustahil jika mereka tidak tau membaca waktu yang ada pada jam tangan tersebut. Lalu kenapa masih juga terlambat?, mungkinkah ini adalah suatu streotipe atau tabiat.

Jawabannya bisa ya bisa tidak, namun dalam kasus ini kita tidak mempersoalkan hal itu. Konsen kita adalah mengapa orang tertentu rela membayar mahal untuk sebuah mesin penunjuk waktu yang disebut jam tangan (arloji). Semua orang sudah tahu bahwa fungsi utama arloji adalah menunjukan waktu baik hari, tanggal maupun jam. Tetapi dalam konteks ini, mereka mengabaikan fungsi dimaksud, mereka membayar dengan biaya yang mahal untuk sebuah arloji bukan karena mengharapkan core benefit-nya sebagai mesin waktu. Namun lebih kepada keinginan untuk mengekpresikan diri.

Dengan memakai jam tengan merek terkenal dan mahal, mereka ingin mencitrakan dirinya sebagai eksekutif, manager atau pengusaha yang sukses dengan kelas tertentu. Kumpulan nilai yang melekat dalam sebuah produk dan diasosiasikan oleh konsumen sebagai simbol, status sosial, citra / image, gengsi maupun gaya hidup yang merupakan variabel yang menyebabkan segmen tersebut kurang peka terhadap harga.  Inilah yang disebut dalam strategi harga sebagai value based price atau lebih populer dengan sebutan value pricing.

Value atau nilai adalah perbandingan antara total get (manfaat komulatif) dan total give (biaya total). Komponen total get adalah manfaat atau fungsi nyata (functional benefit) yang diterima konsumen atas keputusannyamembeli suatu produk. Manfaat membeli tiket pesawat udara adalah memindahkan Anda dari suatu kota ke kota lainnya. Disamping fungsi / manfaat tadi, konsumen juga juga memperoleh nilai emosional (emotional benefit) dari produk yang bersangkutan, misalnya status, citra atau gengsi.

Sementara total give-nya berupa jumlah uang yang dibayarkan (monetary cost) dan pengorbanan lainnya (other expenses) yang dikeluarkan oleh penumpang tersebut untuk menikmati penerbangan dimaksud. Pada situasi tertentu, kadang-kadang konsumen justru memberi pengorbanan tenaga, pikiran, waktu dan emosi yang lebih besar dibanding nilai uang yang mereka keluarkan. Tentu saja hal seperti ini tidak diinginkan. Sebab dalam perspektif value pricing, konsumen lebih mengutamakan sisi manfaat emosional daripada fungsi riel produk.

Mereka dengan suka rela mau mengeluarkan uang yang banyak demi memenuhi hasrat emosinya. Karena itu, produsen perlu terus meningkatkan nilai emosional produk dan berusaha keras mengurangi biaya non finansial yang harus dikorbankan oleh konsumen. Ada beberapa faktor yang memungkinkan sebuah produk dapat dijual dengan harga premium dengan menggunakan metode value pricing. Faktor-faktor dimaksud antara lain adalah persepsi kualitas (perceived quality), asosiasi merek (brand association), distribusi dan tingkat kustemisasi (product customization).

Bicara masalah kualitas, ada perbedaan yang mendasar antara kulitas menurut produsen dan kualitas menurut konsumen. Dalam kamus produsen kualitas adalah kecocokan antara standar produksi dengan realisasi produk. Jika semua standar terpenuhi, maka barang atau jasa terkait diyakini berkualitas. Sedangkan bagi konsumen kualitas lebih identik dengan kesesuaian antara ekspektasi / persepri dengan pengalaman yang mereka temui ketika mengkonsumsi produk. Produk dengan kualitas nomor satu berdasarkan hasil uji lab tidak otomatis dominan dan menguasai pangsa pasar. Karena konsumen memiliki logika sendiri dalam menilai kualitas suatu produk, yakni persepsi kualitas. Persepsi ini tidak lahir dengan sendirinya dalam benak konsumen, tetapi dibangun melalui kegiatan promosi yang terencana dan integratif.

Sebagai contoh mari kita lihat industri air minum dalam kemasan (AMDK) . Di Makassar ada kurang lebih 30 perusahaan AMDK dengan harga jual bervariasi dari Rp 3.000 sampai Rp 15.000.  Meskipun jumlahnya banyak dan harganya relatif lebih murah tetapi peminat Aqua tetap banyak sekalipun harga jualnya lebih mahal, yaitu Rp 25.000 – 30.000. Kenapa? Karena Aqua dipercaya lebih berkualitas dan mampu meningkatkan derajat kesehatan tubuh.Inilah value Aqua yang tidak dimiliki oleh AMDK lainnya, sehingga konsumen mau membeli dengan harga tersebut.

Faktor kedua value pricing adalah asosiasi merek. Banyak merek yang mempunyai asosiasi tertentu, sebut saja salah satunya adalah Sony. Siapapun pasti familiar dengan merek ini dan mungkin beberapa barang elektronik yang Anda gunakan di rumah, di kantor atau di mobil adalah varian merek tersebut. Kalau mendengar kata Sony, maka yang muncul dalam benak kita adalah kualitas (andal) dan inovatif (modis). Kedua asosiasi tersebut sudah melekat pada semua produk Sony dan telah diterima oleh konsumen sebagai suatu fakta selama bertahun-tahun. Karena itu konsumen bisa memahami / menerima bila semua produk Sony dijual rata-rata lebh mahal dari barang-barang elektronik merek lainnya.

Aspek distribusi dapat juga berpengaruh terhadap harga jual sebuah produk. Lihat saja air minum merek Equil, nyaris dapat dipastikan bahwa Anda tidak dapat menemukannya di supermarket, mall apalagi pasar tradisional.  Distribusi Equil sangat terbatas dan diperuntukkan khusus untuk kalangan tertentu saja. Dalam setiap rapat kabinet, para mentri dan pejabat tinggi negara lainnya disuguhi air minum merek ini, begitu pula dengan acara jamuan bagi tamu negara. Diluar acara tersebut, Equil hanya dipasarkan pada hotel-hotel berbintang dan komunitas tertentu. Karena keunikan distribusi dan pasarnya, Equil dapat menikmati harga jual premium. Variabel terakhir value pricing adalah kustemisasi atau taylor made product.

Ada kelompok konsumen tertentu yang menginginkan suatu produk di desain khusus sesuai dengan selera yang bersangkutan. Persis seperti ketika dia memesan gaun pada seorang penjahit. Mulai dari jenis kain, warna, benang, model dan sebagainya dia yang memilih dan menentukannya, sedangkan penjahit hanya membuatnya menurut order dimaksud.     Semakin tinggi tingkat kustenisasi sebuah produk, makin mahal biaya yang dapat dikenakan pada barang tersebut. Anda saya kira kenal dengan merek Ferrari, ini adalah mobil yang tidak diproduksi dan dijual secara umum. Bila seseorang berminat, ia dapat memesannya menyertakan desain dan aksesoris yang diinginkannya. Sebagai imbalannya peminat harus bersedia membayar dengan harga milyaran rupiah per unit.

Disinilah keistimewaan value pricing, ”you get more for giving more”. Sukses untuk produk, Anda Salam Pemasaran.


MANY TO MANY SELLING

penulis : Anshar Daud,Sekjen IMA Chapter Sulsel

Perubahan sosial sudah banyak terjadi di sekitar kita. Mulai dari keterbukaan pers, reformasi, gerakan anti korupsi, internet, e-commerce, blog, mobile chatting, dan sebagainya. Perubahan-perubahan tersebut menyebabkan dunia semakin borderless, informasi mengalir dengan cepat dan sulit dibatasi.

Hal ini juga mempengaruhi cara penjualan. Metode penjualan tradisional one to one maupun one to many dirasa sudah kurang efektif lagi diterapkan. Dunia sudah memasuki era komunikasi digital, many to many. Hal ini ditunjukkan dengan semakin populernya situs jaringan sosial di internet. Sebagai contoh, Facebook, salah-satu situs jaringan sosial terkemuka, telah memiliki lebih dari 200 juta anggota.

Fungsi penyebaran informasi dan product knowledge pun telah diambil alih oleh internet. Sebelum membeli suatu produk, para pelanggan melakukan riset terlebih dahulu melalui internet mengenai harga, fungsi, kualitas, maupun pelayanan purna jual suatu produk. Komentar-komentar pengguna awal suatu produk menjadi salah-satu hal yang penentu keputusan membeli konsumen. Hal ini dikarenakan konsumen lebih mempercayai pendapat sesama konsumen dibandingkan pendapat salesman. Penjual harus lebih berperan sebagai konektor antara konsumen dengan perusahaan dibandingkan sebagai komunikator dari perusahaan. Karenanya, goal utama dari sales tersebut adalah relasi jangka panjang dengan konsumen. Dengan relasi ini pun diharapkan pelanggan dapat menjadi sponsor kita, yang akan memberikan rekomendasi kepada komunitasnya, sehingga pelanggan dapat menjadi konektor kita untuk dapat menjual lebih banyak lagi. Dengan semakin banyaknya rekomendasi, maka akan lebih mudah meyakinkan calon konsumen baru untuk melakukan pembelian.

Pertanyaan yang mungkin muncul selanjutnya adalah bagaimana cara kita dapat meyakinkan sponsor kita untuk dapat menyebarkan word of mouth (WOM) yang baik mengenai perusahaan ataupun produk yang kita jual, bagaimana cara agar kita dapat memperoleh rekomendasi yang kita harapkan. Agar dapat menjalankan tugasnya dengan baik, sponsor harus diberi motivasi dan cara yang mudah untuk mengingat pesan kita. Salah-satu caranya adalah dengan meninggalkan pengalaman positif bagi pelanggan kita (memorable experience).

Penjualan yang baik secara umum dapat dianalogikan sebagai suatu konser musik rock:

  1. Start with a bang … get your audience excited
  2. Sing great songs … but make sure your audience sings along
  3. Give the audience what they want … be ready to improvise
  4. Reach out to recruit new fans
  5. … and always end with the best song

Hal ini dapat dilakukan dengan E4 selling:

1. Opening act          : Excite the customer base

Kemungkinan keberhasilan penjualan semakin tinggi apabila kita berhasil membuat dua atau lebih anggota tim pembelian terkesan dengan yang kita sampaikan. Contoh perusahaan yang berhasil mengesankan pembelinya antara lain adalah J-Co Donuts. J-co membuat dapur transparan sehingga pengunjung dapat melihat langsung proses pembuatan donat, dan ternyata hal ini menimbulkan kesan tersendiri bagi pelanggannya.

2. Hit single               : Energize supporters

Supporter merupakan kunci kesuksesan menjual kepada grup yang lebih besar, sehingga penting sekali untuk menjaga motivasi mereka. Hal ini dapat dilakukan diantaranya dengan memberikan nilai tambah kepada pelanggan yang sudah ada, misalnya pengusaha restoran yang memberikan pelatihan gratis memasak bagi pelanggannya. Hal ini diaplikasikan oleh Telkom sebagai perusahaan infokom diantaranya dengan memberikan pelatihan internet gratis kepada masyarakat.

3. Ballad song           : Engage the larger community

Penting untuk tidak menggantungkan hidup hanya pada 1-2 supporter saja. Lebih baik terus melakukan “tebar pesona” guna merekrut lebih banyak supporter. Berpartisipasi dalam event besar dimana pengunjungnya merupakan segmen pasar yang kita kejar merupakan salah-satu cara untuk memperluas komunitas. Sebagai contoh adalah yang telah dilakukan BRI, yang mewajibkan para mantra kreditnya untuk menghadiri acara-acara social di desanya masing-masing, baik itu sunatan, pengajian, maupun perkawinan. Hal ini secara tidak langsung akan memunculkan image yang baik bagi mantra kredit tersebut di mata masyarakat, sehingga akan mempermudahnya memperoleh kepercayaan calon pelanggan. Kebiasaan ini pun dapat kita terapkan di perusahaan kita. Dengan memperoleh image yang baik di mata masyarakat, maka secara tidak langsung dalam memasarkan produk pun kita akan lebih mudah meyakinkan calon pelanggan.

4. The encore           : Execute the transaction

Terakhir, kita harus pintar menggunakan support yang sudah kita bangun untuk menggolkan sales dan membangun hubungan jangka panjang. Kita harus senantiasa memberikan apa yang diharapkan konsumen dari kita. Sebagai contoh, Air Asia menggunakan jargon bahwa mereka menjamin no frills safe and fun trip. Mereka harus berusaha keras untuk menjamin bahwa itulah yang akan diperoleh konsumennya. Sebagai perusahaan jasa, hal yang diharapkan pelanggan dari Telkom antara lain adalah kualitas jasa dan pelayanan. Karenanya, hal inilah yang harus senantiasa diutamakan bagi pelanggan. Speedy dengan jargon speed that you can trust, harus mampu mempertahankan kualitas kecepatannya, karena hal itulah yang diharapkan pelanggan dan yang dapat kita gunakan untuk menjaring pelanggan-pelanggan baru.

Posted by : Admin…

Skarang lagi trend positioning &

diffrentation

Saya menulis ini ketika saya berturut-turut menonton di media tv nasional, banyak bermunculan slogan-slogan..ya klo boleh diblng banyak muncul tagline-tagline baru yg sangat menarik perhatian…dalam ilmu marketing inilah yang di sebut positioning and differentation..
klo boleh saya sebut (baca : ini bukan kampanye ya….)
klo untuk di mksar (kebetulan penulis orang berasal dari mksr) ; Pemilihan walikota baru-baru ini ;
Oppokie, Mantap Mentong, dsbnya…
klo untuk nasional :
slogan Capres dan Cawapres misalnya : JK Win,,,MEGA PRO…,,SBY-Berbudi…,dll(jikalau masih ada calon lain) kemudian taglinenya lebih cepat lebih baik (JK-Win), Lanjutkan (SBY-Berbudi). Pro Ekonomi Rakyat (Mega Pro),dll
dan banyak lagi contoh kasus-kasus yang lainnya.
Positioning and differentation diperlukan sebagai salah satu strategy marketing untuk merebut value,brand dan image kepada costumernya ataupun kepada konstituennya (jikalau itu ada pada politik)
nah,yang jadi pertanyaan bagaimana dengan produk atau bisnis anda??
apakah sudah punya Positioning dan differentation…???
jawabannya ada pada strategy marketing anda….
ditunggu kreativitasnya…

komentar beberapa teman..pemasaran politik atau lainnya..termasuk self marketing menganut mazab klasik positioning & differensiasi..namun ada hal yg tdk membuat efektif mazab dimaksud bila tdk diimbangi membangun jejaring dgn pola hu atau Hermawan sebut horizontal. jadi marketing sekarang sdh seperti musik JAZZ…qt hrs tepat kapan ber jam session, maka jadilah dia paduan: legacy+horizontal marketing atau JAZZ MARKETING!

(Ikawijaya,komisaris Bank Sulsel)

istilah baru pak,..
JAZZ marketing,
Bisa jg berarti marketing itu diamis, liar, tidak ada aturan yg baku, sama seperti orang bermain music jazz.
jadi sudah dua nilai dr JAZZ marketing
1) legacy+horizontal
2)dinamis, dan unpredictable (sama sperti org bermain muzik jazz)

( A.Nur Bau Massepe,SE,MM. Dosen Marketing STIM NITRO MAKASSAR)
To :all
Marketers Holic…

Switching off your light for one hour, 28 March 09, 20.30-21.30

Jumat, 27 Maret, 2009 21:03

Dear WWF Supporters,2,848 cities, towns and municipalities in 84 countries have already committed to VOTE EARTH for Earth Hour 2009, as part of the worlds first global election between Earth and global warming.

VOTE EARTH !!!
YOUR LIGHT SWITCH IS YOUR VOTE

Saturday, March 28, 8:30-9:30pm.

Jakarta is also joining and the Provincial Government with WWF-Indonesia have committed to switch off the light at the National Monument, Governor Office (Balaikota), Bundaran HI (HI roundabout), Arjuna Wiwaha Statue and Pemuda Statue.

50 other buildings around Sudirman-Thamrin-Kuningan-Gatot Subroto have committed to follow suit. Also, more than 17,000 individuals in Jakarta have said that they will join.

We encourage that you can participate as well.

This year, Earth Hour has been transformed into the world’s first global election, between Earth and global warming.

For the first time in history, people of all ages, nationalities, race and background have the opportunity to use their light switch as their vote – Switching off your lights is a vote for Earth, or leaving them on is a vote for global warming. WWF are urging the world to VOTE EARTH and reach the target of 1 billion votes, which will be presented to world leaders at the Global Climate Change Conference in Copenhagen 2009.

This meeting will determine official government policies to take action against global warming, which will replace the Kyoto Protocol. It is the chance for the people of the world to make their voice heard.

Earth Hour began in Sydney in 2007, when 2.2 million homes and businesses switched off their lights for one hour. In 2008 the message had grown into a global sustainability movement, with 50 million people switching off their lights. Global landmarks such as the Golden Gate Bridge in San Francisco, Rome’s Colosseum, the Sydney Opera House and the Coca Cola billboard in Times Square all stood in darkness.

In 2009, Earth Hour is being taken to the next level, with the goal of 1 billion people switching off their lights as part of a global vote. Unlike any election in history, it is not about what country you’re from, but instead, what planet you’re from. VOTE EARTH is a global call to action for every individual, every business, and every community. A call to stand up and take control over the future of our planet. Over 74 countries and territories have pledged their support to VOTE EARTH during Earth Hour 2009, and this number is growing everyday.

We all have a vote, and every single vote counts. Together we can take control of the future of our planet, for future generations.

VOTE EARTH by simply switching off your lights for one hour, and join the world for Earth Hour.

Saturday, March 28, 8:30-9:30pm.

Please visit http://www.earthhour.org/indonesia to find out more

GATHERING IMA SUL-SEL BERSAMA

HERMAWAN KERTAJAYA

Bertempat di Executive Lounge Hotel Clarion Makassar, Indonesia  Marketing Association (IMA) CHAPTER  Sulawesi Selatan melakukan gathering awal tahun 2009. Gathering ini dihadiri oleh lebih dari 50 orang Pengurus, Anggota, profesional marketing maupun peminat pemasaran di kota Makassar. Menjelang acara dimulai, para peserta tampak berdialog begitu hangat dan akrab satu sama lain, mereka bertukar pengalaman dan informasi tentang banyak hal, khususnya perkembangan-perkembangan terkini seputar praktek dan teori pemasaran. Menjelang pukul 19.30 Wita, 2 orang tokoh Pemasaran Indonesia yaitu Hermawan Kertajaya dan Yuswohady sebagai tamu kehormatan IMA Chapter Sul-Sel tiba dilokasi gathering dan disambut dengan meria oleh President IMA Chapter Sul-Sel Bapak Elvizar KH bersama seluruh Pengurus dan Anggota. Sebagai bentuk penghargaan atas kehadiran Sang Maha Guru Marketing Indonesia, MC langsung mendaulat Pak Hermawan Kertajaya untuk berkenan memberikan Keynote Speech-nya sebagai pembekalan bagi peserta gathering.

Mengawali pembicaraannya, Hermawan Kertajaya menguraikan nostalgia dan lika liku Dia terjun di IMA. Bermula pada tahun 1996, ketika IMA berada dalam situasi yang pelik ibarat kata pepatah “hidup segan mati tak mau”. Melihat kondisi IMA tersebut, Hermawan mengajak sejumlah praktisi pemasaran untuk bergabung dan bersama-sama membesarkan IMA. Dalam Munas IMA tahun 1996, Beliau dipilih secara aklamasi sebagai President IMA Pusat periode 1996 – 1999. Karena dinilai sukses memimpin IMA satu periode sebelumnya, maka Hermawan untuk kedua kalinya dinobatkan kembali sebagai President IMA Pusat periode 1999 – 2002. Kompetensi marketing yang mumpuni dan pengalaman memimpin IMA 2 periode memacu adrenalin Hermawan untuk maju sebagai kandidat President APMF (Asia Pasipafic Marketing Federation). Pada APMF Conference 2002 di Manila Pilipina, Hermawan terpilih sebagai President APMF periode 2002 – 2004. Salah satu momentum besar Hermawan di APMF adalah mengganti nama APMF menjadi AMF (Asia Marketing Federation), sehingga tidak ada lagi sekat wilayah bagi seluruh marketer dikawasan Asia. Selanjutnya Hermawan juga berhasil mempromosikan Bali sebagai lokasi AMF Conference 2004 dan pada kesempatan itu pula Beliau kembali dikukuhkan sebagai President AMF periode 2004 – 2006. Nasib baik sebagai President Marketing rupanya senantiasa melekat pada diri Hermawan, lepas dari AMF, Dia dipercaya menjadi President WMA (World Marketing Assosiation).

Hermawan menekankan kepada peserta gathering tentang pentingnya memahami marketing secara holistik. Marketing seringkali dipersepsi banyak kalangan sebagai 4P (Marketing Mix), padahal 4P hanyalah salah satu unsur taktis pemasaran untuk memenangkan market share, elemennya lainnya masih ada differentiation dan selling. Pada sisi lain, marketing juga mempunyai aspek strategis sebagai tools untuk meraih mind share pelanggan, yaitu : Segmentation, Targeting dan Positioning. Selanjutnya agar marketing mampu memberi value kepada konsumen, maka unsur Brand, Service dan Process juga harus dielaborasi dalam setiap aktifitas pemasaran melengkapi aspek strategis dan taktis sebelumnya. Jadi prinsipnya, marketing memiliki 9 elemen utama dan saling berkaitan satu sama lain serta harus dieksekusi secara paralel bukan sekuensial. Berikutnya harus pula diingat, bahwa pemahaman ilmu pemasaran saja belum cukup untuk meraih keberhasilan, perlu juga mengerti landscape ekonomi dan flatform industry. Di pasar, selain ada Company dan Customer juga ada Competitor serta Change atau disingkat 4C. Perubahan flatform industry dan landscape ekonomi memicu meningkatnya intensitas kompetisi sehingga memaksa perusahaan untuk berubah, termasuk juga konsumen ikut mengalami pergeseran prilaku konsumsi dan gaya hidup. Sebagai ilustri, mari kita liat apa yang terjadi dalam industri telekomunikasi Indonesia. Dulu hanya ada Telkom sebagai pengelola telepon lokal dan SLJJ serta Indosat sebagai penyelenggara jasa SLI. Waktu itu, telepon mahal dan susah diperoleh. Memasuki abad 21 dan paska deregulasi sektor telekomunikasi, industri seluler berkembang pesat dan pertumbuhannya melesat jauh meninggalkan layanan telepon kabel. Beruntung Telkom memiliki Telkomsel dan Flexi sehingga stagnasi bisnis legacy-nya yang berbasis kabel dapat ditopang oleh produk seluler. Booming pelanggan seluler dan meningkatnya penetrasi internet serta munculnya web 2.0 menyebabkan interaksi dan komunikasi konsumen berubah. Mereka cenderung berkumpul melalui media online seperti Facebook, Myspace dan sebagainya. Dampaknya, pola hubungan antara produsen dengan konsumen bergeser dari hubungan vertikal menjadi horisontal. Inilah yang mencetuskan lahirnya ide horizontal marketing. Agar horizontal marketing bisa berjalan efektif, maka konsep 9 elemen utama pemasaran memerlukan transformasi dan adaptasi menjadi 12C atau lebih dikenal sebagai New Wave Marketing.

Seusai Pak Hermawan, giliran Pak Elvizar KH selaku President IMA Chapter Sul-Sel menyampaikan Welcome Speech sekaligus memperkenalkan diri selaku President Chapter yang baru. Mengawali sambutannya, Pak El memberi apresiasi yang sangat besar atas kehadiran Pak Hermawan dan Pak Yuswohady dalam kegiatan gathering IMA Sul-Sel. Selain itu, Beliau juga mengungkapkan kekaguman-Nya terhadap track record Pak Hermawan dalam bidang maupun organisasi marketing. Sambil bercanda, Pak El menyatakan bahwa dirinya dengan Pak Hermawan memiliki kesamaan, yaitu sama-sama President. President yang tidak memerlukan poster kampanye maupun proses pemilu. Sebagai warga baru di IMA Sul-Sel, Pak El mengajak seluruh Pengurus dan Anggota IMA serta simpatisan pemasaran untuk menerima dirinya layaknya keluarga sendiri dan memberikan dukungan yang maksimal agar IMA bisa berperan lebih besar untuk memajukan pemasaran dan perekonomian di Sul-Sel. Program utama yang menjadi obsesi Pak El di tahun 2009 adalah mendorong dan memfasilitasi seluruh Provinsi di KTI untuk segera membuka Chapter IMA di IbuKota Provinsinya masing-masing. Ide ini langsung disambut Pak Hermawan dengan ucapan kata “setuju” yang lantang. Mengingat Telkom Divre VII KTI memiliki 10 Kandatel di 13 Provinsi, maka Elvizar KH berharap agar para GM Kandatel Telkom KTI menjadi inisiator terbentuknya IMA dan sekaligus menjadi President IMA Chapter yang pertama di wilayah Datelnya. Disamping itu, selaku president, Ia juga berjanji untuk meningkatkan daya tarik IMA dengan meningkatkan benefit keanggotaan, salah satunya adalah menjadikan kartu member IMA sebagai jaringan kartu diskon berbagai produk. Metode ini diyakini mampu berperan sebagai diferensiasi IMA dengan organisasi profesional lainnya sekaligus menarik minat pehobi marketing untuk bergabung dengan IMA.

Sebelum mengakhiri gathering pengurus juga memamaparkan realisasi program kerja tahun 2008 yang disampaikan oleh Executive Direktor Sdr. Tommy AS, kemudian dilanjutkan presentasi Calender Of Event (CEO) 2009 oleh Sekjen IMA Sdr. Anshar Daud. Sesi terakhir acara adalah perkenalan Pengurus dan Anggota dengan Pak Hermawan Kerjaja bersama Pak Yuswohady. Tampak diantara pengurus yang hadir adalah Prof. Haris Maupa (VP Academic Relation), DR. Muh. Akbar (VP Programs), Yusvan Paris, MBA (VP HRD), Zani A. Husain (VP Relations), Hariadi K (VP Development), Ir. Syarifuddin A (VP Organization), SubChapter Unhas, Sub Chapter UMI dan Penguru maupun Anggota lainnya. Salam Marketing

GATHERING IMA CHAPTER SULSEL DI AWAL TAHUN 2009

Indonesia  Marketing Association (IMA) CHAPTER  Sulawesi Selatan 2009 mengadakan kegiatan pertama kalinya di awal tahun 2009 bertempat di Executive Lounge Hotel Clarion Makassar.

Dalam kegiatan tersebut dihadiri oleh Pengurus dan member IMA Chapter Sulsel, Sub Chapter UNHAS,Sub Chapter UMI.Event Gathering  IMA juga dihadiri oleh Bapak Hermawan Kartajaya. Dalam Keynote Speechnya beliau berpesan kepada IMA Chapter Sulsel agar IMA selalu menjadi asosiasi Marketing yang terdepan dan selalu menjunjung etika marketing. Dengan adanya Era New Wave Marketing, Marketing sekarang menjadi Horizontal tidak lagi vertikal.Beliau juga menambahkan Era Marketing sekarang adalah eranya produk komunikasi, mobile communication. yang akan booming produk disaat ini adalah produk komunikasi.seperti produk IT,handphone.

foto-galeri-ima-gatrhering-new1

undangan-gathering1

MARKETING OUTLOOK 2009

Oleh : Anshar Daud (Sekjen IMA Chapter Sul-Sel)

anshar daud

Marketing 2009 akan dilingkupi oleh suasana resesi ekonomi global,

integrasi ekonomi regional Asean dan pemilu 2009.Selain itu, kemajuan teknologi memicu gaya hidup konsumen menjadi mobile, experiential dan community.

Konsekuensinya,flatform marketing berubah dari model vertical top down ke interaksi sosial antar customer yang bersifat horizontal.

Kita baru saja menutup tahun 2008 dan segera menapaki tahun baru 2009. Sepanjang perjalanan tahun 2008 tentu banyak prestasi yang berhasil diraih, namun secara jujur juga harus diakui pasti masih ada beberapa catatan tentang kinerja perusahaan / individu yang belum maksimal atau bahkan mungkin pencapaiannya jauh dari target yang telah ditetapkan sebelumnya (alias gagal). Mumpung berada diawal tahun, kita masih punya banyak waktu dan kesempatan untuk me-review dan meng-update marketing maupun sales plan 2009. Tingkat keberhasilan eksekusi marketing / sales plan selain ditentukan oleh dukungan sumber daya internal, juga bergantung pada atmosfir kondisi makro ekonomi yang meliputinya serta intensitas kompetisi industri. Dalam konteks makro, pada dasarnya ada 3 faktor fundamental yang akan dominan menentukan dan mewarnai kesuksesan pemasaran Indonesia di tahun 2009, yaitu resesi ekonomi global, integrasi regional Asean dan penyelenggaraan Pemilu 2009. Untuk memberi ilustrasi tentang bagaimana ketiga faktor tersebut bekerja dan mempengaruhi aktifitas pemasaran, mari kita membahasnya satu per satu secara ringkas.

Resesi Ekonomi Global, Tsunami resesi ekonomi bersumber dari Negara adi daya Amerika Serikat, Indonesia sebagai bagian dari sistem ekonomi global tidak bisa melepaskan diri dari pengaruh / dampak buruk petaka ini. Apalagi pilar perekonomian kita belum begitu pulih (recovery) dan kuat dari terjangan krisis yang terjadi pada tahun 1998. Konsekuensi logis yang akan terjadi pada perekonomian dalam negeri ditahun 2009 karena resesi ini adalah turunnya pertumbuhan sektor-sektor industri, melemahnya daya beli dan daya serap pasar serta kemungkinan timbulnya potensi PHK massal yang disebabkan oleh karena perusahaan tempat mereka bekerja mengalami kebangkuran maupun pengurangan volume produksi. Implikasi krisis yang paling menghantui banyak orang termasuk Pemerintah adalah gelombang PHK. Beberapa kalangan memperkirakan bahwa dalam tahun 2008 saja akan ada bencana PHK sebanyak 340 ribu orang karyawan. Sementara dalam perjalanan tahun 2009 estimasinya bisa mencapai angka 1,5 juta pekerja. Jika kedua prediksi jumlah PHK tersebut benar-benar terealisasi, maka ini adalah sebuah mimpi buruk (nightmare) bagi dunia pemasaran Indonesia. Kenapa demikian? Tentu saja, karena ketiadaan pekerjaan sama dengan hilangnya pendapatan (income). Artinya semakin banyak masyarakat Indonesia yang merosot daya belinya atau bahkan mungkin tidak punya daya beli. Ini menjadi PR berat yang menanti para marketer di tahun 2009, mereka harus bekerja lebih keras dan rajin memutar otak jika ingin marketing / sales plan-nya tercapai.

Integrasi Regional Asean, lesuhnya ekonomi Amerika, Jepang dan beberapa Negara Eropa merupakan peluang bagi negara-negara lain seperti Brazil, Rusia, India, China dan Asean (BRICA) untuk melakukan konsolidasi kekuatan ekonomi dalam negeri maupun kawasan sehingga suatu waktu bisa mengambil alih kepemimpinan ekonomi global maupun mengisi kekosongan pasokan barang / jasa pasar internasional. Mengingat bahwa kondisi ekonomi Brazil, Rusia, India dan China (BRIC) lebih mapan dan lebih siap dibandingkan kelompok anggota Asean, maka perlu inisiatif percepatan integrasi ekonomi. Sebagai realisasinya, tanggal 16 Desember 2008 para Menteri Ekonomi negara-negara Asean berkumpul di Singapura dengan satu agenda utama yaitu “Penandatanganan kesepakatan dan perjanjian-perjanjian penting” sebagai bagian tindak lanjut nyata cetak biru Komunitas Ekonomi ASEAN. Dokumen yang ditandatangani antara lain adalah ASEAN Trade in Good Agreement (ATIGA), ASEAN Comprehensive Investment Agreement (ACIA), dan the 7th ASEAN Framework Agreement on Services (AFAS-7). Fokus perhatian dari ATIGA, ACIA dan AFAS-7 adalah memfasilitasi perdagangan barang, mengurangi / menghapus hambatan tarif atau non-tarif, memperkecil hambatan investasi dan meningkatkan liberalisasi sektor jasa. Sehingga semua faktor produksi, baik tenaga kerja maupun modal diizinkan bebas bergerak melintasi batas-batas wilayah 10 negara Asean. Dengan begitu, regional Asean akan menjelma menjadi sebuah pusat mesin pertumbuhan ekonomi yang baru (New Emerging Engine of Growth) dan terpadu yang mampu bersaing dengan kawasan lainnya serta mengimbangi ekspansi dan serbuan produk-produk dari China, Jepang dan Korea. Ini merupakan peluang sekaligus ancaman bagi industri dan pemasar dalam negeri Indonesia. Peluang karena potensi pasarnya kurang lebih 580 juta pembeli (buyer) namun juga tantangan karena intensitas kompetisinya semakin tinggi dan dinamis baik antar sesama anggota Asean maupun komunitas ekonomi Negara lainnya. Pada tahun 2009 dan tahun-tahun selanjutnya, bukan cuma produk (barang / jasa), tenaga kerja dan modal dari China dan Korea saja yang akan membanjiri pasar kita tetapi juga datang dari Malaysia, Singapura, Vietnam, Pilipina serta anggota Asean lainnya.

Penyelenggaraan Pemilu 2009, pelaksanaan pesta demokrasi 2009 selain memanaskan suhu politik juga akan mendorong peningkatan kegiatan ekonomi dalam negeri. Besarnya potensi ekonomi yang tersimpan dibalik hajat Pemilu 2009 dapat kita perkirakan dengan melakukan perhitungan sederhana. Data KPU menyebutkan bahwa ada 38 partai yang sudah pasti ikut andil dalam Pemilu legislatif. Dari jumlah partai tersebut, terdapat 11.301 Caleg yang akan bertarung memperebutkan 560 kursi DPR. Angka itu belum termasuk calon DPD sebanyak 1.116 orang sehingga jumlah seluruhnya menjadi 12.417 peserta. Informasi yang beredar mengisyaratkan bahwa besar biaya pribadi yang harus ditanggung oleh setiap Caleg peserta Pemilu berkisar Rp 400 jt – 1,5 Miliar. Asumsikan saja setiap Caleg menghabiskan dana sebesar Rp 750 juta maka agregatnya menjadi Rp 9,3 triliun. Untuk KPU sendiri, Pemerintah mengalokan anggaran Pemilu Rp 13,5 Triliun (dengan distribusi Rp 4,5 T untuk Pemilihan legislatif dan Rp 9 T untuk PilPres). Sementara biaya kampanye keseluruhan partai politik diprediksi tidak akan kurang dari angka Rp 3 Triliun. Dengan demikian, total dana Caleg, KPU dan Partai Politik untuk Pemilu 2009 berkisar pada nilai Rp 25,8 Triliun. Angka tersebut belum termasuk biaya pengamanan Pemilu oleh Polri / TNI, penyiapan infrastruktur pendukung oleh BUMN / BUMD (Telkom, PLN dan sebagainya), Departemen / instansi terkait maupun partisipasi swasta dan publik / masyarakat. Jika semua pengeluaran-pengeluaran dimaksud diakumulasikan, jumlahnya tidak akan kurang dari nominal Rp 30 Triliun, bahkan ada pihak yang mengestimasinya tembus angka Rp 40 Triliun. Dana tunai yang sangat besar ini akan mengalir ke masyarakat (pasar) secara serentak di 77 wilayah pemilihan dari Sabang sampai Marauke. Bentuk peruntukannya bisa berupa pengadaan material kampanye (Kaos, spanduk, atribut partai, poster, baliho / Billboard), Iklan TV / Radio / Koran, SMS Blast, mobilisasi massa, pentas musik, kegiatan sosial dan sebagainya. KPU sendiri akan membelanjakan anggarannya untuk pengadaan logistik Pemilu seperti pencetakan kertas suara, pembuatan bilik / kotak suara, segel, tinta, sosialisasi via media, alat pemilihan bagi tuna netra, dokumentasi, honor petugas Pemilu dan lain-lain. Singkatnya, sektor industri media (Cetak / Elektronik), Advertising Agency, Event Organizer, Entertainment, Percetakan, transportasi, telekomunikasi, Hotel dan seterusnya akan kecipratan uang penyelenggaran Pemilu 2009. Bila Pemilu berjalan damai, maka ia akan berperan sebagai stimulus ekonomi yang mampu menciptakan kesejahteraan yang menyebar (redistribution of wealth) dengan efek berganda (multiplier effect) yang signifikan bagi dunia industri dan kegairahan pasar domestik Indonesia.

Bersandar pada analisis situasi dan variabel makro di atas, tak dapat dipungkiri bahwa resesi ekonomi akan melemahkan kekuatan industri domestik dan lesunya pasar konsumen. Namun penyelenggaraan Pemilu yang damai dengan potensi dana segar Rp 40 triliun merupakan sumber energi yang mampu menstimulasi dan mengakselerasi kegiatan ekonomi diseluruh pelosok tanah air. Pertumbuhan (growth) ekonomi yang paling optimis diperkirakan sekitar 5% hingga 5,6%, sedangkan pihak yang relatif pasimis mengestimasi lebih rendah pada kisaran 3,7% sampai 4,5%. Rata-rata pertumbuhan ukuran pasar (market size) sebagian industri (tekstil, properti, otomotif, asuransi, perbankan, telekomunikasi, hotel, ritel, makanan dan minuman, farmasi dan kosmetik) adalah 16%, turun 8,2% dari tahun lalu. Kenaikan market size paling tinggi diprediksi terjadi pada penjualan sepeda motor dengan growth 28,2% dari realisasi tahun 2008 (5,872 juta unit) sedangkan penjualan tekstil dan garmen tumbuh tipis 6,7% sementara rokok diramalkan turun 1,3%. Beberapa tantangan dominan yang bakal menghadang para marketer dalam tahun 2009 ini antara lain permintaan dan daya beli konsumen yang menurun, intensitas kompetisi makin sengit dan tajam baik untuk produk sejenis maupun produk pengganti / pelengkap (substitute and complementary product), daya tawar (bargaining power) konsumen yang lebih tinggi karena penawaran yang melimpah maupun karena pemahaman produk (product knowledge) yang lebih mumpuni, transparansi publik dan kontrol media, LSM serta institusi Pemerintah makin ketat, pasar yang cenderung menyatu melampaui batas geografis negara / benua (borderless countries) secara offline melalui kesepakatan / perjanjian (komunitas ekonomi Asean) maupun online via internet dan stabilitas politik / keamanan paska pemilu.

Untuk menyiasati keadaan dan survive dari gejolak ekonomi yang berat, marketer harus lebih sensitif dan senantiasa waspada mengamati dan merespon perkembangan / pergerakan pasar, konsumen dan kompetitor. Setiap perubahan lanskap pemasaran perlu disolusi dengan cerdas, cekatan, pantang menyerah dan terus mengasah kreatifitas. Kreatifitas sangat dibutuhkan karena 2 alasan, pertama : pasar didominasi oleh konsumen yang sensitive price. Mereka akan cenderung menahan diri meskipun mampu membeli, sering melakukan window shopping untuk membanding-bandingkan harga, menunggu event promo / diskon atau membeli hanya barang-barang / jasa yang betul-betul diperlukan. Kedua : marketer harus berusaha keluar dari kerumunan kompetitor (getting out from market crowd) dan tidak menjejalkan diri dalam rule of the game eksisting. Berikan diferensiasi dalam bentuk value for money or product dan carilah new rule of the game sebagai karakter brand Anda yang bisa mengunci pelanggan sekaligus membentengi diri dari serangan pesaing. Jurus-jurus pemasaran seperti pemberian diskon, sales promo, bundling product, re-packaging dengan ukuran yang lebih kecil, re-launching product, penurunan harga dan penetrasi pasar atau produk dapat dilakukan dengan pendekatan situasional dan hasil yang terukur. Disamping itu, pertimbangkan pula customer life style trend yang tengah diwarnai oleh aspek mobility, experiential dan community. Dewasa ini konsumen makin melek teknologi, jumlah pengguna telepon seluler per 31 Desember 2008 mencapai angka 150 juta pelanggan dan pengakses internet tercatat sebanyak 35 juta user. Jadi online marketing bukan lagi mimpi tapi sudah nyata adanya meskipun perannya belum menyamai offline marketing. Suka atau tidak, populasi konsumen yang bertransaksi via media online secara mobile akan meningkat tajam seiring berjalannya waktu baik sekedar information searching, download product catalog, e-banking, e-tiketing dan beragam bentuk transaksi lainnya. Efek dari mobility, experiential dan community menyebabkan marketing menjadi horizontal dan tidak lagi vertikal sebagaimana tahun-tahun sebelumnya. Hubungan produsen konsumen secara top down (vertikal) mulai bergeser ke interaksi sosial (horizontal) dari customer to customer baik one to one (individu ke individu), one to many (individu ke komunitas) maupun many to many (komunitas ke komunitas). Mereka akan berkumpul dalam berbagai komunitas online seperti Facebook, Myspace, Flickr, Second Life dan sebagainya kemudian saling berbagi (curhat) informasi dan pengalaman tentang apa saja yang menyangkut suatu merek. Bayangkan jika Mr. X memiliki komunitas di Facebook misalnya dengan member 1.000 orang di seluruh Indonesia dan kecewa dengan produk merek Y lalu ia menuangkan uneg-unegnya disana, maka dalam waktu sekejap berita tersebut dibaca oleh 1.000 orang. Selanjutnya ke 1.000 orang tadi langsung mem-forward-kannya ke komunitasnya masing-masing, dampaknya pasti luar biasa terhadap citra merek Y. Karena itu, mulai tahun 2009 ini Anda patut memperhitungkan fenomena online mobility, social network media dan community marketing. Salam pemasaran, sukses 2009 … (adaud72@telkom.co.id).

Penulis sehari-hari adalah profesional di Perusahaan Telekomunikasi,PT.TELKOM DIVRE VII.



Salam Pemasaran,

Sekretariat IMA Pusat mengucapkan:

“Selamat Hari Natal & Tahun Baru 2009”

Semoga di tahun 2009 ini mendatangkan berkah dan kebahagiaan bagi kita semua.

Hormat Kami,
Sekretariat IMA Pusat

new-image

MUSYAWARAH NASIONAL INDONESIA MARKETIING ASSOCIATION IV

Tanggal 10 Desember 2008, Kampus Bina Nusantara

*Presiden IMA baru Periode 2008 – 2010, Andreas Diantoro.

andreas-diantoropresiden-ima-pusat-periode-2008-2010

munas-ima-iv10-desember-20081


Jakarta, Musyawarah Nasional Indonesia Marketing Association yang ke IV baru-baru ini dilaksanakan di kampus Bina Nusantara. Dalam Munas ini dihadiri oleh 20 Chapter dan sub chapter yang berada di seluruh daerah Indonesia. IMA Chapter Sulsel diwakili oleh Sekertaris Jendral,Bpk.Anshar Daud dan Seminar,Training,& Exhibition Director, Tommy A.Sigalotang.

Dalam Munas tersebut, Bapak Hermawan Kartajaya dalam Sambutannya sebagai Chairman of the Senate, mengatakan bahwa IMA sebagai salah satu asoasiasi profesi Marketing harus terus memarketingkan marketing, apalagi diera sekarang ini IMA harus mempunyai strategi yang new wave. Yang lazim ia sebut sebagai era new wave marketing.beliau juga banyak bercerita tentang IMA pada saat beliau menjadi President dahulu.

Agenda yang lain IMA juga memilih Presiden yang baru dan lewat voting terpilih calon tunggal Bapak Andreas Diantoro. Beliau adalah salah seorang Profesional di perusahaan DELL TM, menjabat sebagai Regional Managing Director South Asia/Developing Markets Group. Bapak Andreas Diantoro menggantikan Bapak J.W.Junardy sebagai Presiden IMA Periode 2005-2008.

Dalam kegiatan MUNAS, Peserta Munas juga diberikan tiket gratis untuk mengikuti event Markplus Confrence 2009 di Ritz Caltron, Pacific Place. Dalam seminar tersebut dihadiri oleh profesional marketing dari seluruh perusahaan dalam bahakan di luar negeri yang berjumlah sekitar 4000 orang.

BOSAN….TANDA UNTUK TERUS

Sepanjang perjalanan karier dan kehidupan tentu yang namanya jenuh pernah kita alami. Entah dalam pekerjaan, kehidupan pribadi, hubungan, ataupun financial. Kejenuhan merupakan satu paket dalam perjalanan kehidupan kita. Sehingga dibutuhkan penanganan yang konsisten untuk mengatasi kejenuhan di dalam hidup agar kita terhindar dari perangkap kehidupan ini. Kejenuhan merupakan hal yang tidak menyenangkan untuk dialami. Saat kejenuhan datang semangat kita cenderung down, kreativitas jadi macet, dan keinginan untuk terus berjuang menjadi lemah. Tetapi kejenuhan juga memiliki sisi positif. Dengan kejenuhan kita tahu sudah saatnya kita harus berubah dan terus berjalan agar pemandangan tentang jenuh berganti dengan pencapaian-pencapaian baru.

Kejenuhan merupakan warning bagi kita manusia untuk terus berubah, bertumbuh, berjalan, berjuang, ke arah yang lebih baik. “Karena tanpa semuanya itu kita akan menjadi manusia yang tetap sama hari ini dengan hari kemarin.” Untuk itulah kejenuhan diciptakan di dalam dunia ini. Sebagai suatu peringatan penting bagi setiap kita untuk terus, bukannya berhenti. Tetapi sayangnya banyak dari manusia justru menanggapinya sebagai tanda untuk berhenti. Mereka berpikir bahwa dengan adanya kejenuhan semua hal yang terbaik telah diambil dari mereka. Mereka melihat kejenuhan sebagai musibah bukannya peluang. Hal ini yang merupakan pemicu bagi begitu banyak orang di dunia tinggal dalam perangkap yang namanya jenuh. Kejenuhan merupakan satu paket dalam perjalanan hidup, namun tidak sedikit dari manusia yang ada menjadikannya tempat bernaung. Di setiap perjalanan kehidupan kita akan kembali bertemu dengan kawan lama kita yang bernama jenuh. Yang harus anda lakukan adalah, say halo, sedikit basa-basi, dan kemudian melanjutkan perjalanan. Jangan membiarkan kawan anda yang satu ini menyita waktu yang begitu banyak. Sebab dia ada hanya untuk memberi tahu bahwa perjalanan yang lebih indah sedang menanti anda.

Tips bagi anda yang sedang mengalami titik jenuh adalah, temukan impian yang lebih besar dari yang telah anda raih. “Impian merupakan tujuan sementara sebelum melakukan perjalanan yang berikutnya.” Seumpama anda adalah pesawat yang lepas landas dari Irian menuju ke Jakarta dan transite di Makassar, kemudian dari Jakarta anda pun menuju Singapura. Anda tentu akan terus terbang dari satu tempat ke tempat lain yang lebih indah. Makassar, Jakarta, atau yang lainnya merupakan tempat persinggahan sementara untuk menyiapkan bekal sebelum melakukan perjalanan berikutnya. Demikian juga dengan impian yang anda miliki. Ketika anda berhenti menetapkan sasaran berikutnya kejenuhan akan datang untuk memberi peringatan. Oleh karena itu jangan pernah berhenti menetapkan target berikutnya sebagai impian yang ingin anda raih di dalam hidup. Sebab hidup adalah sebuah perjalanan dari satu tempat menuju tempat yang lebih indah.

Tips berikutnya adalah lakukanlah hal-hal baru di dalam kehidupan. Banyak dari kita yang terlalu terpaku dengan rutinitas yang ada sehingga melupakan bahwa hidup ini membutuhkan keseimbangan. Seumpama anda sedang berjalan pada seutas tali dan di bawahnya terdapat jurang yang dalam. Anda tentu akan berusaha menjaga keseimbangan agar tidak jatuh ke dalam jurang tersebut. Terlalu berat ke kiri disebabkan anda terlalu lama berada di dalam rutinitas. Tentu jika berat ini menghilangkan keseimbangan anda, maka jurang yang bernama kejenuhan telah menanti di bawah. Seimbangkanlah dengan melakukan hal-hal baru sekali-kali di saat anda membutuhkannya. Mungkin anda perlu berkunjung ke tempat-tempat baru, mengenakan pakaian yang lain dari biasanya, memiliki potongan rambut baru, berkenalan dengan orang-orang baru, atau belajar tentang hal-hal yang selama ini belum anda ketahui. Dengan begitu keseimbangan mulai terjaga, dan anda tidak harus jatuh ke dalam jurang yang bernama kejenuhan. Anda cukup melihatnya dari jarak yang cukup jauh.

Mulai dari sekarang saya yakin anda telah mengetahui apa yang harus di lakukan ketika kejenuhan berpapasan dengan anda. Tidak perlu risau, kalut, atau putus asa. Anda hanya perlu say halo dan meneruskan perjalanan kehidupan anda yang penuh dengan petualangan yang menarik. Teruslah berjalan sebab kejenuhan merupakan salah satu pemandangan yang mesti kita temui di dalam hidup. Namun kejenuhan tidak mempunyai kemampuan untuk menghentikan anda mencapai yang lebih baik di dalam kehidupan. “Sehabis gelap terbitlah terang,” begitulah kata pepatah. Di saat anda menemui kejenuhan di dalam perjalanan, itu berarti peluang untuk berubah yang segera membawa anda menikmati hal-hal baru di dalam hidup. Make everything possible with Self-Management. Bersama saya Andrian Kusnadi, Salam FunTastic!

SUMBER : www.andriankusnadi.com

e.mail : ak_trainingconsulting@yahoo.co.id

Pahala P.Hariandja

Pahala P.Hariandja

PRESIDENT IMA CHAPTER SULSEL,PAHALA P. HARIANDJA DIPINDAHTUGASKAN

Pada Bulan September 2008, Bapak Pahala P.Hariandja (EGM Divre VII PT.Telkom) dipindahtugaskan ke Bandung di kantor Pusat PT.Telkom dengan posisi VP. Risk Manajemen. dan sebagai penggantinya Bapak Elvizar dari kantor pusat Bandung.

oleh sebab itu Pengurus dan beberapa anggota pada hari Jum’at( 05/09/2008) pukul 11.00 tepatnya di kantor Telkom Divre VII Jl.A.P.Pettarani mengadakan pertemuan dan telah melakukan pisah sambut kepada bapak Pahala P.hariandja (President IMA Sulsel) dan menyambut Bapak Elvizar sebagai EGM PT.Telkom Divre VII sekaligus mengharapkan Beliau dapat menjabat President IMA Chapter Sulsel periode 2007-2010,dimana melanjutkan tugas dari Bapak Pahala P.Hariandja sebagai President.

Pengurus IMA Chapter Sulsel mengucapkan juga banyak terima kasih kepada Bapak Pahala P.Hariandja yang telah membantu perkembangan Marketing Di Sulawesi Selatan khususnya di Makassar serta menjunjung tinggi kode etik Asosiasi Pemasaran Indonesia.

Semoga pengganti yang baru dapat melanjutkan program-program Indonesia Marketing Association (IMA) Chapter Sulsel yang telah berusia  hampir sembilan tahun.

Penulis,

Tim Sekertariat IMA Chapter Sulsel

Bahasa Marketing

Muh. Akbar-Ketua STIKOM Fajar

Internal Communication Director

Bagi seorang penjual, selain dipersyaratkan harus menguasai banyak bahasa. Ia wajib mengetahui bahasa marketing. Bahasa marketing itu sendiri adalah strategi yang didapat digunakan oleh tenaga penjual untuk menjual suatu produk. Sebagai strategi, bahasa marketing ini tidak saja dapat digunakan untuk memikat calon pembeli, tapi lebih dari itu, digunakan untuk mengikat pembeli.

Soal bahasa marketing, dalam satu buku best seller national, diperkenalkan tiga bentuk bahasa. Pertama, bahasa teknis. Kedua, bahasa penjual. Ketiga, bahasa pelanggan. Dan, yang membedakan ketiganya adalah materi atau isi pesan yang disampaikan kepada konsumen.

Bahasa teknis misalnya, berarti materi yang dibicarakan oleh penjual kepada calon pembelinya adalah masalah-masalah teknis. Materi bahasa ini sangat terkait dengan spesifikasi produk (barang atau jasa). Hal-hal yang dapat dijadikan materi pembicaraan antara pejual dengan calon pembelinya antara lain adalah bahan baku, bentuk, berat, warna, dan lain-lain termasuk pentunjuk penggunaan.

Sementara itu, bahasa penjual dapat diartikan bahwa materi atau pesan yang disampaikan kepada calon pembeli adalah menyangkut masalah-masalah keunggulan-keunggulan suatu produk. Keunggulan yang dimasud di sini tidak terlepas dari perspektif penjual itu sendiri. Dalam penerapannya, penjual tampil seolah-olah memamerkan seluruh kelebihan dan keunggulan produknya. Singkatnya, arah pembicaraannya selalu mengantar produknya menjadi yang terbaik atau pemimpin pasar.

Berikutnya adalah bahasa pelanggan. Dalam prosesnya, tenaga penjual akan memfokuskan presentasi atau materinya kepada hal-hal yang sangat berkaitan dengan kebutuhan calon pembeli. Intinya, materi yang disampiakan akan selalu terkait dengan benefits suatu produk.

Mana yang terbaik? Akan sangat tergantung dengan produk yang ditawarkan. Dan, akan lebih baik bila tenaga penjual dilengkapi keahlian untuk menerapkan ketiga bentuk bahasa marketing ini untuk menghindari calon pembeli pergi tanpa bertransaksi.

Terkehusus kepada bahasa pelanggan, strategi yang sesungguhnya adalah menawarkan solusi terhadap masalah pelanggan. Masalah di sini sangat terkait dengan pemenuhan kebutuhan pelanggan. Dengan strategi ini pula pelanggan dapat dipikat dan diikat. Lebih dari itu, penerapan strategi ini akan meyakinkan pelanggan terhadap keberpihakan penjual kepada pelanggan, bukan kepada produsen. Sekalipun akhirnya hasil dari transaksi yang terjadi akan dinikmati secara bersama oleh penjual dan produsen.

Dalam penerapannya, tenaga penjual terlebih dahulu dianjurkan untuk mengali informasi dari calon pembelinya. Misalnya, untuk berbicara dengan calon pembeli sofa, seharusnya penjual menggali informasi tentang luas ruangan, warna cat dinding, warna lantai, dan lain-lain, termasuk produk pendukung sebagai pelangkap interior. Tidak diajurkan terlebih dahulu menawarkan kemurahan harganya.

Singkatnya, tenaga penjual yang mahir dalam menggunakan bahasa pelanggan akan tampil sebagai problem solver. Dalam menjalankan peran ini, seorang penjual akan tidak lagi dilihat sebagai penjual. Akan tetapi ’ia’ akan dianggap sebagai ’mitra’ oleh pembelinya.

Khusus sebagai problem solver, tenaga penjual tidak dianjurkan untuk merumitkan persoalan sederhana. Atau sebaliknya, menyederhanakan persoalan rumit untuk menghindari gelar pembual. Titik.

Make Your Dreams Come True

With Self Management

Setiap manusia ingin mencapai apa yang sering kita sebut dengan impian. Definisi impian adalah mencapai dan menjalani kehidupan seperti apa yang kita inginkan. Secara garis besarnya impian setiap orang meliputi, hidup bahagia, kemapanan financial, dan kesehatan diri. Tetapi yang menarik untuk kita ketahui adalah lebih dari 80% manusia yang ada di dunia menjalani kehidupan yang tidak sesuai dengan apa yang mereka inginkan. Itu berarti lebih dari 80% manusia yang ada di dunia belum mencapai impian mereka di dalam hidup. Di kota Makassar sendiri dari 1.223.640 penduduk, ada 10% yang masih menjadi pengangguran, dan 80% menjalani pekerjaan yang tidak mereka sukai. Fakta ini didukung dengan hasil survei yang mencatat kurang lebih 80% dari pekerja yang ada berganti pekerjaan paling sedikit sekali dalam satu tahun. Apa yang menjadi rahasia sehingga hanya kurang dari 20% manusia yang ada berhasil mencapai impian dan menjalani kehidupan seperti yang mereka inginkan? Apakah sukses mencapai impian merupakan takdir dari Sang Pencipta bagi orang-orang tertentu saja? Jawabannya akan kita temukan jika kita mengetahui bahwa kurang dari 20% manusia yang sukses mencapai impian adalah orang-orang yang melakukan self management di dalam kehidupan mereka. Inilah yang menjadi penyebab utama kenapa begitu banyak dari manusia yang ada tidak mencapai dan menjalani hidup seperti yang mereka inginkan. Orang-orang yang sukses mencapai impian memiliki impian yang jelas disertai perencanaan, dan kemudian bertindak untuk merealisasikannya. Sedangkan mereka yang belum sukses mencapai impian hanya memiliki impian yang general, tanpa perencanaan, dan tidak pernah bertindak untuk mencapainya.

Mencapai impian di dalam hidup sama seperti membangun sebuah perusahaan. Dibutuhkan management untuk bisa menghasilkan profit dan pertumbuhan agar perusahaan dapat mencapai sukses, demikian juga dibutuhkan self management atau manajemen diri untuk bisa mencapai setiap impian di dalam kehidupan. Self management bisa kita artikan mengatur, mengolah, menata, dan merencanakan segala sesuatu yang perlu kita lakukan agar impian kita dapat dicapai. Benarlah kata pepatah yang mengatakan “Tanpa perencanaan Anda telah berencana untuk gagal.” Memiliki impian sangatlah baik, namun tidaklah cukup untuk menjadikannya terwujud. Dibutuhkan perencanaan dan tindakan yang nyata secara terus menerus dan konsisten agar setiap impian kita bisa menjadi kenyataan. Jika sebuah perusahaan ingin menghasilkan profit dan berkembang sukses yang perlu mereka lakukan adalah merencanakan segala sesuatu serta melaksanakannya dengan baik. Mulai dari riset pasar, menghitung dana awal yang perlu disediakan, memilih orang-orang yang akan menjalankan perusahaan, dan sebagainya. Demikianlah dalam kehidupan jika anda ingin mencapai impian, anda perlu untuk mengambil tindakan dengan self management agar impian anda dapat terwujud. Mulailah menentukan apa saja yang menjadi impian-impian anda, perjelas setiap impian yang ingin anda raih. Misalkan anda ingin menjadi orang sukses, tanyakan kepada diri anda orang sukses dibidang apakah anda. Tanyakan pada diri anda, pekerjaan apa yang paling anda cintai untuk dilakukan dengan segenap hati seumur hidup anda. Seperti apakah kesehatan anda pada umur 50an nanti? Tanyakan kepada diri anda. Siapkan biaya-biaya untuk memulai perjalanan anda mewujudkan impian, seperti biaya mengikuti sebuah kursus, membeli buku-buku yang dapat mengajarkan anda tentang apa yang ingin anda pelajari, melanjutkan sekolah ke jenjang yang lebih tinggi, mendatangi konsultan pribadi dan sebagainya. Berkumpullah dengan orang-orang yang sejalan dengan impian anda, dengan begitu akan mempermudah anda dalam menemukan banyak koneksi untuk membantu pencapaian sukses anda. Buatlah agenda harian agar anda tahu apa yang harus anda lakukan setiap hari untuk menjadikan impian anda kenyataan. Lakukanlah semua yang telah anda rencanakan secara konsisten sampai impian-impian anda terwujud. Dalam meraih sebuah impian pasti ada tantangan, namun orang yang terus berjuang akan dapat melewati setiap tantangan yang ada dan dapat meraih impian mereka. Pastikan anda adalah orang yang termasuk kurang dari 20% yang ada, dan mari kita menambah jumlah tersebut menjadi lebih besar lagi. Saya berharap lewat artikel ini anda semakin termotivasi untuk mencapai impian-impian anda di dalam kehidupan. Percayalah bahwa tidak ada yang mustahil, karena anda diciptakan untuk mencapai impian-impian anda. So, make your dreams come true with self management. Be a Funtastic!

Penulis Oleh : Andrian Kusnadi – Managing Director AK Training & Consulting

email : ak_trainingconsulting@yahoo.co.id

——— Forwarded message ———-
From: Junardy, Y.W. <junardy@rajawali.com>
Date: 2008/4/2
Subject: Asia Marketing Day – tanggal 27 Mei 2008
To: allchapters@ima.or.id, bpp@ima.or.id, ima@ima.or.id
Cc: Yanti <yanti@rajawali.com>, gondosari@hotmail.com, Hermawan_Kartajaya <Hermawan_Kartajaya@markplusnco.com>, Yuswohady@markplusnco.com

Salam Marketing!!!

Sesuai hasil Board of Management Meeting – Asia Marketing Federation (AMF), di Singapura tanggal 14 Maret 2008 yang lalu, telah disepakati untuk menetapkan tanggal 27 Mei sebagai “Asia Marketing Day”, dimana tanggal tersebut bertepatan juga dengan hari ulang tahunnya Prof. Philip Kotler.

Untuk itu, semua asosiasi marketing yang tergabung dalam AMF diminta untuk menyelenggarakan berbagai program kegiatan, salah satunya adalah seminar dengan tema: “Marketing in Uncertain Times – Are you creative enough?”

Sehubungan dengan hal tersebut, DPP-IMA Pusat menyerukan kepada semua Chapter dan Sub-Chapter untuk membuat suatu program yang berkorelasi / merujuk dengan perayaan “Asia Marketing Day” tersebut. Mengingat tanggal 27 Mei 2008 jatuh pada hari Selasa, maka para Chapter dan Sub-Chapter dapat menetapkan jadwal masing-masing, namun tetap mengacu kepada perayaan “Asia Marketing Day” tersebut.

IMA Pusat dan DKI juga merencanakan untuk menyelenggarakan seminar dengan tema yang sama yang akan ditetapkan hari dan tanggal pelaksanaannya.

Untuk diketahui, The Philippines Marketing Association (PMA) akan menyelenggarakan World Marketing Conference pada tanggal 18-19 Juni 2008 dimana pada kesempatan yang sama akan diselenggarakan Annual General Meeting AMF. Pada acara itu akan ditetapkan pengurusan AMF yang baru untuk periode 2008-2010. Informasi lebih lanjut akan kami susulkan. Bagi yang berminat menghadiri acara WMC, harap bisa menghubungi kami.

Demikian disampaikan, sekiranya ada pertanyaan, dapat dihubungi saya atau Yuswohady, sekjen IMA Pusat.

Atas perhatian dan kerjasamanya diucapkan terimakasih.

Y.W.Junardy

President, Indonesia Marketing Association (IMA)


Schedule Marketer Forum

  • <!–[if !supportLists]–> <!–[endif]–>KIAT MEMBANGUN LOYALITAS PELANGGAN, Jum’at, 04 April 2008.
  • VALUE CREATION : More Benefit or Less Cost ? ( unggul bersaing melalui penciptaan nilai ), Jum’at 18 April 2008

<!–[if !supportLists]–>o <!–[endif]–>CHANGING SALES FORCE ( perubahan paradigma tenaga penjualan ), Jum’at, 18 April 2008.

<!–[if !supportLists]–>o <!–[endif]–>KIAT BERTAHAN DAN MEMENANGKAN PERSAINGAN, Jum’at, 02 Mei 2008

<!–[if !supportLists]–>o <!–[endif]–>KIAT MEMBANGUN LOYALITAS PELANGGAN, Jum’at, 16 Mei 2008

<!–[if !supportLists]–>o <!–[endif]–>Sinergic Building ; meningkatkan motivasi dan produktifitas perusahaan, 06 Juni 2008

<!–[if !supportLists]–>o <!–[endif]–>Strategi memenangkan persaingan, 20 Juni 2008

<!–[if !supportLists]–>o <!–[endif]–>Perlukah melakukan Re-Positioning dalam memperkuat merek?, 04 juli 2008

<!–[if !supportLists]–>o <!–[endif]–>Strategi membangung loyalitas perusahaan, 18 Juli 2008

<!–[if !supportLists]–>o <!–[endif]–>Change Management ; menjadi pionir perubahan, 01 Agustus 2008

Sepuluh Langkah Mengevaluasi Merek

  1. Merek mampu memberikan manfaat yang benar-benar dibutuhkan konsumen. Sudah pernahkan anda mencoba untuk mengobservasi keinginan dan keperluan konsumen yang belum bisa terpenuhi?Melalui metode apa?Apakah anda tidak menaruh perhatian pada pengalaman konsumen terhadap produk dan jasa yang ditawarkan?Apakah anda memiliki sistem dimana konsumen bisa memberikan komentar tentang pengalaman menggunakan produk dan jasa?.
  2. Merek masih relevan. Apakah anda telah berinvestasi untuk meningkatkan produk guna menambah nilai untuk konsumen?Apakah anda mengetahui secara persis selera konsumen?pada kondisi pasar saat ini?Apakah segala keputusan pemasaran anda berdasarkan hal-hal tersebut?
  3. Strategi harga berdasarkan nilai yang dipersepsikan konsumen. Apakah perusahaan telah mengoptimalkan harga, biaya, dan kualitas untuk memenuhi bahkan melebihi apa yang diharapkan konsumen?Apakah anda mempunyai sebuah system untuk memonitor perubahan persepsi nilai merek anda?Apakah anda memperkirakan seberapa besar konsumen anda percaya terhadap merek produk anda?
  4. Merek diposisikan dengan tepat. Apakah anda telah mempunyai hal yang dibutuhkan sebagai dasar pembeda untuk berkompetisi dengan pesaing anda?Apakah point of different telah berhasil dimengerti oleh konsumen sebagai kesadaran mereka terhadap produk di pasar?
  5. Konsistensi merek.Apakah program pemasaran tidak menimbulkan pesan yang membingungkan dan tidak pernah terjadi selama ini?Sebaliknya,apakah ada penyesuaian program dengan keadaan terkini?
  6. Portofolio dan hirarki merek masuk akal.Dapatkah merek perusahaan menciptakan sebuah payung untuk seluruh merek dalam portfolio?Apakah setiap merek dalam portfolio memiliki peran terpisah?Seberapa ekstensifnya overlap antar merek?Di area mana?sebaliknya, apakah merek sudah mencakup pasar secara maksimal?Apakah anda memiliki hirarki merek dimana tidak mudah diperhatikan dan dapat dimengerti dengan baik?
  7. Merek menggunakan dan mengkoordinasikan seluruh daftar aktivitas pemasaran untuk membangun ekuitas merek.Apakah anda telah memilih dan mendesain nama merek, logo, symbol, slogan, kemasan, dan lain sebagainya untuk memaksimalkan brand awarness?Apakah anda telah memadukan aktivitas pemasaran pull dan push untuk menjangkau baik distribusi maupun konsumen?Apakah seluruh aktivitas pemasaran dapat dipahami dengan baik?Apakah pelaksana mengelola setiap aktivitas dan mengetahui antara aktivitas yang satu dengan lainnya?Apakah anda telah mengkapitalisasi kemampuan yang unik dalam pemilihan komunikasi yang tidak akan menghilangkan arti dari sebuah merek yang ditampilkan?
  8. Brand manager memahami apa arti merek bagi konsumen.Apakah anda mengetahui apa yang disukai dan tidak disukai oleh konsumen dari merek anda?apakah anda mengenal seluruh anggota tim pemasaran dan apa yang telah dilakukannya terhadap merek, baik yang berasal dari perusahaan maupun luar perusahaan?Apakah anda telah membuat batas-batas skema berdasarkan perilaku konsumen untuk perluasan merek dan acuan untuk program pemasaran?.
  9. Merek mendapatkan dukungan yang semestinya dan dipertahankan dalam jangka panjang. Apakah kesuksesan dan kegagalan dari program pemasaran dapat dimengerti sebelum program tersebut dirubah?Apakah R&D kurang memberikan dukunganya?Sudah pernahkah menghindari keinginan untuk mengurangi dukungan pemasaran sebagai reaksi terhadap melemahnya pasar atau jatuhnya angka penjualan?
  10. Perusahaan melakukan pemantauan sumber-sumber ekuitas merek. Apakah anda mengadakan sebuah audit untuk menilai kinerja merek dan untuk merancang tujuan strategis?apakah anda secara rutin mengadakan kajian untuk mengevaluasi keadaan pasar terkini?apakah anda secara regular mendistribusikan laporan ekuitas merek yang dirangkum di seluruh penelitian dan informasi yang relevan untuk membantu pemasar dalam memutuskan sesuatu?Apakah anda telah menugaskan secara jelas tanggungjawab untuk memonitor dan mempertahankan ekuitas merek?

Pada akhirnya, kekuatan merek terletak di pikiran konsumen, dimana mereka merasakannya dan mempelajari tentang merek dari waktu ke waktu. Pengetahuan konsumen merupakan “hati” ekuitas merek. Realisasi ini mempunyai dampak manajerial yang penting. Secara imajinatif, ekuitas merek membantu pemasar dalam menjembatani strategi terdahulu dan masa datang. Sehingga, berapapun uang yang telah dikeluarkan jangan dipandang sebagai sebuah pengeluaran tapi investasi-investasi agar konsumen mengetahui, merasakan, mengingat, mempercayai,dan berpikir tentang merek-untuk itu konsumen akan memutuskan, berdasarkan kepercayaan dan sikap mereka terhadap merek. Pemasar yang membangun merek kuat telah mengetahui konsep dan menggunakannya untuk memperjelas, mengimplementasikan, dan mengkomunikasikan strategi pemasaran mereka.

MARKETING OUTLOOK 2010

Penulis : ANSHAR DAUD

Sekjen Indonesia Marketing Association (IMA) Chapter Sul-Sel

Dalam cerah langit ekonomi 2010, terselip “uncertainty” sebagai sebuah normalitas baru.

Butuh kejelian dan eksekusi marketing yang jitu pada setiap signal perubahan dipasar,

Kejujuran dan transparansi menjadi daya saing baru dan langka dalam era marketing 3.0.

Menjelang tutup tahun 2009, sinyal pemulihan ekonomi global berangsur-angsur menguat. Indikasi perbaikan yang paling tampak terjadi di negara-negara emerging market Asia, khususnya China dan India. Sementara sejumlah negara maju juga menunjukkan perbaikan yang memadai sehingga proyeksi ekonomi tahun 2010 bergerak kearah positif. Jika selama 2009 ekonomi dunia diprediksi tumbuh negatif 1,1% maka di 2010 angkanya cenderung optimis diposisi 3,1% (data IMF, Oktober 2009). Indonesia sendiri sekalipun turut merasakan guncangan krisis ekonomi dunia, namun tetap mampu survive dengan kisaran pertumbuhan 4,3% dan inflasi sekitar 3%. Memasuki tahun 2010, semua pihak sepakat bahwa ekonomi Indonesia akan tumbuh lebih baik dengan angka 5,4% hingga 5,9% dan laju inflasi 4,5% sampai 5,5%. Sektor transportasi, telekomunikasi dan utilitas dipercaya menyumbang kontribusi dua digit. Sedangkan sektor keuangan, jasa, perdagangan dan konstruksi tumbuh lebih dari 5% namun tetap satu digit. Sementara itu sektor-sektor lainnya seperti pertambangan, manufaktur dan pertanian juga mengalami growth positif dengan laju kurang dari 5%. Perbaikan ekonomi dalam skala nasional tentu merupakan agregat dari pertumbuhan ekonomi yang terjadi di daerah baik pada level kabupaten dan kotamadya maupun provinsi. Provinsi Sulawesi Selatan sebagai salah satu kontributor pertumbuhan ekonomi di daerah tahun 2009 mampu mencatat growth pada kisaran 7%. Karena itu cukup logis jika asumsi pertumbuhannya di 2010 di setting pada angka 7,5% sampai 8%.

Untuk mendukung dan menguatkan keyakinan kita terhadap indikator makro tersebut dan cerahnya iklim usaha ditahun 2010, coba kita simak temuan survey Markplus Insight yang dilaksanakan bulan Juli dan November 2009. Dalam laporannya disebutkan bahwa 76,8% responden setuju bahwa kondisi ekonomi 2010 lebih baik dari 2009, 3% sangat baik, 14,9% menyatakan kondisinya sama saja dan hanya 1,8% menganggapnya lebih buruk. Survey juga dilakukan untuk mengidentifikasi daya beli konsumen 2010, hasilnya adalah 9,1% berpendapat sangat tinggi, 60% tinggi, 21,8% biasa saja, 7,3% rendah dan 1,2% rendah sekali. Temuan survey yang lain adalah mayoritas pelaku usaha (marketer) sepakat untuk meningkatkan aktifitas marketing-nya dalam enam bulan kedepan baik yang terkait dengan penjualan, biaya pemasaran, intensitas promosi maupun proses distribusi produk. Bidang-bidang usaha yang dipandang prosfektif dan memiliki tren pertumbuhan yang tinggi sepanjang 2010 adalah telekomunikasi, consumer goods, property, otomotif dan retail.

Secara makro maupun mikro situasi bisnis cukup kondusif (the sky looks brighter) sehingga dapat menjadi bekal dan pijakan awal bagi setiap pelaku usaha dalam menyusun action plan tahun 2010.  Action plan ini dapat berupa dokumen  umum seperti rencana kerja dan anggaran (RKA) ataupun file khusus sejenis cetak biru pemasaran (marketing plan). Ada atau tidaknya marketing plan yang komprehensif  bukanlah sebuah masalah yang patut diperdebatkan karena bagaimanapun juga unit yang bertanggung jawab terhadap pemasaran pasti telah memiliki rencana. Substansi yang urgent dan perlu menjadi fokus perhatian adalah sejauh mana orang-orang marketing dalam perusahaan mampu menangkap dinamika setiap signal perubahan yang terjadi di pasar dan meresponnya secara cepat dan akurat. Salah membaca signal dan reaksi yang lambat serta solusi yang tidak tepat adalah bumerang bagi perusahaan manapun dan pasti berimplikasi terhadap sustainability-nya.

Mengingat bahwa perang yang sesungguhnya terjadi di sekitar kita sehari-hari adalah perang pemasaran, maka siapapun Anda dan apapun jenis bisnis yang digeluti sangat perlu untuk memahami tren pemasaran yang tengah berlangsung dan bakal terjadi di tahun 2010. Pemasaran sebagai sebuah disiplin ilmu mengalami transformasi menyesuaikan diri dengan perubahan yang terjadi dalam kehidupan sosial masyarakat. Masyarakat mengenal zaman, begitu pula dengan marketing. Dahulu orang membeli barang (produk / jasa) berdasarkan azas manfaat (rational benefit), pertimbangan utamanya adalah harga dan kualitas. Zaman (orde) ini dinamakan sebagai era rational marketing atau orde marketing 1.0. Seiring perjalanan waktu dan perubahan life style konsumen, maka mereka beranggapan bahwa harga dan kualitas sudah bersifat given dan merupakan entitas yang mutlak melekat pada produk / jasa. Atribut yang menjadi fokus perhatian adalah kemampuan produk dalam meningkatkan citra dan harga diri, memenangkan hati dan ego konsumen. Ini adalah eranya emotional marketing atau orde marketing 2.0. Timbulnya beragam krisis ekonomi dan kemajuan teknologi khususnya telekomunikasi memicu kesadaran baru bagi masyarakat dunia akan pentingnya arti kejujuran dan transparansi. Kejujuran dan tranparansi adalah resource yang langka dan mampu menjadi daya saing perusahaan dalam jangka panjang dan sulit ditiru. Kejujuran inilah yang menjadi spirit lahirnya orde baru marketing, yaitu spiritual marketing (human-spirit marketing) atau marketing 3.0.

Legacy Marketing, era pemasaran rasional (marketing 1.0) dan emosional (marketing 2.0) dapat disebut sebagai pemasaran orde lama (legacy marketing). Perselisihan antara RS Omni dan Prita Mulyasari adalah contoh yang gamblang tentang praktek legacy marketing. Dalam konteks ini aktifitas pemasaran bersifat vertikal, birokrat, satu arah, produsen adalah subjek dan konsumen diperlakukan sebagai objek pemasaran. Instrumen utamanya adalah marketing mix (product, price, promotion & place) dan hanya sedikit perusahaan yang memanfaatkan unsur strategi (Segmentasi, targeting & positioning) dan Value (Branding, Process & Service) pemasaran. Produk kategori komoditi seperti sembako, hasil pertanian, perkebunan, perikanan, sebagian FMCG dan barang / jasa sejenis lainnya yang tidak mengandalkan merek (brand) masih relevan menggunakan pola marketing 1.0. Fokusnya adalah bagaimana menjaga kesesuaian antara harga, kualitas, kemasan dan pasokan sehingga konsumen memperoleh manfaat yang sebanding dengan nominal uang yang harus mereka bayar. Produk otomotif, properti, elektronik, tekstil dan branded goods lainnya dapat tetap memanfaatkan era marketing 2.0 dengan lebih menekankan eksplorasi aspek strategi dan value marketing serta memulai penjajakan untuk memasuki orde marketing 3.0.

New Wave Marketing, orde baru pemasaran (new wave marketing) atau marketing 3.0 bukan berarti era pendahulunya sama sekali ditinggalkan dan tidak berlaku lagi. Marketing 3.0 justru merupakan penyempurnaan dari era sebelumnya, sehingga khazanah marketing lebih kaya, lengkap dan mampu memanusiakan konsumen. Produsen dan konsumen berada dalam posisi yang setara, memiliki saling ketergantungan, komunikasi berlangsung dua arah sehingga dapat terbangun kemitraan dan hubungan yang bersifat horizontal. Masing-masing pihak (penjual dan pembeli) mempunyai akses terhadap informasi yang berimbang sehingga dapat terjalin negosiasi yang fair, jujur dan transparan serta win-win solution. Kemajuan teknologi wireless mobile dan internet merupakan driver utama lahirnya konsep marketing 3.0. Eksistensi telepon seluler membuat sebagian besar orang dapat terhubung (connect) dengan siapapun, kapan dan dimanapun mereka berada. Fenomena mobile and connect menjadi lebih bergairah dengan berkembangnya internet web 2.0 dan memicu munculnya social media seperti Facebook, MySpace, Twitter, Kaskus dan sejenisnya. Ciri konsumen Indonesia adalah senang berkumpul dan curhat (sharing). Gemar ngumpul dan curhat ini menjadi gayung bersambut melalui media sosial dan piranti mobile.  Dulu konsumen ngumpul di arisan, pengajian, pesta / hajatan, organisasi sosial / profesi dan lain-lain. Sekarang, tempat ngumpulnya migrasi ke dunia maya Facebook, Twitter, Kaskus dan sebagainya. Disana mereka membangun koloni dalam bentuk grup-grup komunitas (community) sesuai interest, hobby, icon, issue dan seterusnya. Kedahsyatan online community terlihat jelas dalam kasus Cicak vs Buaya dan Koin Prita, mereka sanggup memobilisasi opini, dukungan, sumber daya dan massa dalam waktu yang sangat singkat. Fakta ini membuktikan bahwa era marketing 3.0 sudah tiba dan mengharuskan para marketer untuk memahami dan menggelutinya. Keywords marketing 3.0 adalah mobile and always connect, mampu melebur dalam offline dan online communities dan perusahaan mempunyai flatform yang bisa mengakomodasi proses komunitisasi konsumen. Karakter Marketer 3.0 adalah mobile (gaul) sehingga mampu merekatkan diri dengan all stakeholders-nya (konsumen, supplier, regulator, asosiasi, kompetitor, YLK / LSM) melalui community offline dan online.

UMKM dan Pasar Bebas 2010, Meskipun awan cerah bakal menyertai ekonomi tahun 2010 namun bukan berarti jalannya bebas hambatan. Benar bahwa “the sky looks brighter” tetapi dibaliknya terselip ketidakpastian, “uncertainty is the new normality”. Kasus Bank Century sejauh ini keliatannya masih normal dan terkendali, namun didalamnya tertanam benih goncangan politik jika dana bailout terbukti mengalir ke partai tertentu. Berikutnya implementasi kesepakatan pasar bebas intra Asean (Indonesia, Singapura, Malaysia, Thailand, Filipina dan Brunei Darussalam) dan Asean dengan China tanggal 1 Januari 2010 berpotensi merontokkan daya saing industri dalam negeri terutama UMKM. Hal substansial lainnya dan perlu mendapat atensi dari korporasi adalah isu-isu yang terkait dengan lingkungan dan bencana alam. Patut disadari bahwa pasar memiliki dinamika dan kompleksitas yang tinggi, pemicu ketidakpastian dan krisis bukan variabel normatif semisal regulasi dan supply-demand, melainkan faktor ekspektasi, asumsi-asumsi, spekulasi para pelaku pasar dan intervensi penguasa.

Potret ekonomi, temuan survey Markplus Insight,konsep dan analisis marketing sebagaimana diuraikan di atas merupakan pra kondisi yang baik bagi dunia usaha dalam menyongsong dan memasuki tahun 2010. Mari satukan tekad, spirit dan optimisme yang tinggi dalam menjalankan putaran roda ekonomi bangsa secara optimal sekecil apapun peran yang dilakoni untuk Indonesia yang lebih maju dan kompetitif dalam kancah pasar global, (admaleo@gmail.com).

Iklan


Strategy Case by tommyamarja
Februari 8, 2008, 4:53 am
Filed under: Artikel

Dibalik Kesuksesan Teh Botol Sosro::


Coca-Cola dan Pepsi adalah segelintir perusahaan asing yang produk minumannya familiar di kalangan masyarakat Indonesia. Saking hebatnya brand image yang dibangun sehingga seolah-olah produk mereka telah manjadi bagian dari hidup bangsa kita. Dengan leluasa mereka menjadikan indonesia dengan segala potensinya menjadi pasar empuk bagi produk yang dihasilkan.

Tidak banyak produk indonesia yang begitu membanggakan dan mampu “menghajar” kekuatan kapitalis internasional itu. Salah satu produk membanggakan itu adalah Teh Botol Sosro.

Kesuksesesan sosro dalam merebut hati konsumen Indonesia sesungguhnya dilihat dari aspek pemasaran cukup unik. Sosro,dalam beberapa hal, telah mengabaikan hukum-hukum umum yang terdapat di ilmu pemasaran.

Misalnya saja mengenai perlunya riset pasar sebelum meluncurkan produk. Konon kabarnya sebelum sosro hadir, ada sebuah perusahaan asing yang ingin mengeluarkan produk teh dalam botol sepert yang dilakukan sosro saat ini. Kala itu sang perusahaan menyewa jasa sebuah biro riset pemasaran untuk menguji kelayakan dan prospek produk tersebut di Indonesia.

Setelah meneliti dan mengamati kebiasaan minum teh di masyarakat sang biro pun menyimpulkan bahwa produk ini tidak memiliki prospek bagus untuk dipasarkan di Indonesia. Biro itu beralasan bahwa budaya minum teh pada bangsa Indonesia umumnya dilakukan pagi hari dalam cangkir dan disajikan hangat sehingga kehadiran teh dalam kemasan botol justru akan dianggap sebuah keanehan.

Sosrodjojo, pendiri perusahaan sosro, justru berpikir sebaliknya. Awalnya ide kemasan botol berasal dari pengalaman tes cicip (on place test) di pasar-pasar tradisional terhadap teh tubruk cap botol. Pada demonstrasi pertama teh langsung diseduh di tempat dan disajikan pada calon konsumen yang menyaksikan. Namun cara tersebut memakan waktu lama sehingga calon konsumen cenderung meninggalkan tempat. Kemudian pada uji berikutnya teh telah diseduh dari pabrik dan kemudian dimasukkan ke dalam tong-tong dan dibawa dengan mobil. Akan tetapu cara ini ternyata membuat banyak teh tumpah selama perjalanan karena saat itu struktur jalan belum sebaik sekarang.

Akhirnya sosro mencoba untuk memasukkannya pada kemasan-kemasan botol limun agar mudah dibawa. Beranglkat dari itu merekaberpikir bahwa penggunaan kemasan botol adalah alternatif yang paling praktis dalam menghadirkan kenikmatan teh lansung ke konsumen.

Dari awal produk ini ditargetkan untuk konsumen yang sering melakukan perjalanan seperti supir dan pejalan kaki sosro . Sosro menyadari bahwa segmen konsumen ini memiliki keinginan hadirnya minuman yang dapat menghilangkan dahaga di tengah kelelahan dan kondisi panas selama perjalanan. Atribut kepuasan ini dicoba untuk dipenuhi dengan menghadirkan minuman teh dalam kemasan botol yang praktis dan tersedia di kios-kios sepanjang jalan. Untuk menambah nilai kepuasan teh botol ini disajikan dingin dengan menyediakan boks-boks es pada titik-titik penjualannya (penggunaan kulkas pada saat itu belum lazim).

Tentu saja merubah kebiasaan tak semudah membalik telapak tangan . Pada masa-masa awal peluncurannya, teh botol sosro tidak banyak dilirik oleh konsumen. Mereka justru menganggap aneh produk ini karena kemasan botol dan penyajian dinginnya. Namun sosro tidak patah arang.

Perusahaan ini terus mengedukasi pasarnya melalui iklan-iklan di berbagai media dan promosi-promosi on the spot. Perlahan tapi pasti produk teh botol sosro mulai mendapatkan tempat di hati konsumen Indonesia. Terlebih ketika slogan “Apapun makannya, minumnya teh botol sosro” di munculkan. Slogan ini tidak saja mengguncang sesama produk teh namun juga produk minuman secara keseluruhan.

Keunikan kedua dari metode pemasaran teh botol sosro adalah pada kekakuan dari produk itu sendiri. Sesuai teori pemasaran, konsumen secara alami mengalami perubahan atribut kepuasan seiring berjalannya waktu. Perubahan itu dapat disebabkan karena gaya hidup, kondisi ekonomi, atau kecerdasan yang maik meningkat. Seiring perubahan pasar itu harusnya produk yang dipasarkan harus menyesuaikan dan mengikuti tren yang ada.

Namun yang terjadi pada produk teh inovatif ini justru kebalikan. Semenjak diluncurkan pada tahun 1970, produk teh botol sosro baik rasa, kemasan logo maupun penampilan tidak mengalami perubahan sama sekali. Bahkan ketika perusahaan multinational Pepsi dan Coca cola masuk melalui produk teh Tekita dan Frestea, Sosro tetap tak bergeming. Alih-alih merubah produknya, dengan cerdas sosro justru melakukan counter branding dengan mengeluarkan produk S-tee dengan volue yang lebih besar.

Strategi ini ternyata lebih tepat, kedua perusahaan multinasional itu pun tak berhasil berbuat banyak untuk merebut hati konsumen Indonesia.

Sekelumit kisah sukses sosro itu memberi pelajaran pada kita betapa pemasaran tidak hanya sekedar ilmu yang eksak. Faktor knowledge terkadang hanya memberi kontribusi kecil pada kesuksesan produk kita ketika dipasarkan. Faktor sisanya adalah seni dan intuisi yang dapat memandu para pemasar mencapai hasil yang di luar dugaan. Gabungan antara ketiganya lah yang dapat menghasilkan seorang pemasar yang jenius dan berpikir di luar kebiasaan yang Anda. Mungkin tidak banyak orang seperti itu di dunia ini, tapi mungkin juga dari jumlah yang sedikit itu ternyata Anda lah salah satunya.

 

Sumber : http://www.i-comers.com/articles-marketing/3166-berbagai-trik-strategi-marketing-dalam-memasarkan-produk.html



The 60th Anniversary Of HK & YWJ by tommyamarja
Desember 5, 2007, 10:26 am
Filed under: Even & agenda IMA Sulsel

anniversa1.jpg



TRAINING FOR UMKM by tommyamarja
Desember 5, 2007, 8:54 am
Filed under: Even & agenda IMA Sulsel

KNOWLEDGE MANAGEMENT

 MARKETING & BUSINESS FOR UMKM

 
Peran UMKM (Usaha Mikro Kecil dan Menengah) sebagai wujud kecil ekonomi rakyat mempunyai kedudukan, potensi, dan peran yang strategis dalam perekonomian nasional. Oleh karena itu, saat ini UMKM mendapat perhatian yang besar dari pemerintah, melalui Kementerian Koperasi dan Usaha Kecil Menengah.

Efek dari tumbuhnya UMKM adalah pendistribusian modal dan penyebaran kesejahteraan kepada masyarakat kecil. Pemerintah harus memperhatikan rancangan Undang-undang Usaha Mikro dan Kecil Menengah yang saat ini tengah disusun oleh DPR di Komisi VI yang diprediksi rampung pada akhir tahun 2007.

Intinya UU tersebut adalah untuk mengembangkan UMKM dan mengatur hal-hal mengenai permasalahan UMKM saat ini yang perlu didukung oleh regulasi. Tapi masalah yang urgent saat ini bukan hanya kesulitan akses modal bagi UMKM, bukan pula karena kurangnya keterampilan produksi bagi pengusaha UMKM. Masalah terbesar adalah di bidang Knowledge Marketing. Berbagai macam kasus turun ataupun naiknya prestasi suatu perusahaan sangat ditentukan oleh peran dan partisipasi karyawan untuk meningkatkan inovasi produk, motivasi untuk bekerja dan berfikir semaksimal mungkin.

Oleh karena itu INDONESIA MARKETING ASSOCIATION (IMA) Chapter Sul-Sel sebagai organisasi kemasyarakatan yang bergerak pada bidang pemasaran, berinisiatif menyelenggarakan TRAINING FOR UMKM Plus pendampingan. Hal ini sebagai bentuk kepedulian dalam meningkatkan pengetahuan (knowledge management) serta keterampilan dalam hal pengembangan usaha mikro kecil dan menengah agar mampu bersaing di pasar global.

Dalam pelatihan ini, selain materi peserta juga memperoleh fasilitas pendampingan setelah pelatihan dilaksanakan. Ini tentunya menjadi nilai tambah tersendiri bagi para peserta, apalagi dalam pelatihan ini peserta tidak dipungut biaya (gratis).

Pelatihan ini akan menghadirkan beberapa kalangan praktisi serta akademisi di bidang marketing sebagai trainer. Diantaranya Pahala P. Hariandja (Keynote Speaker), Sabri Rasyid, Drs. Muh. Akbar, M.Si Dr. Zulbahren, Widarta, A.M. Yusvan Paris. Acara ini rencananya akan diselenggarakan pada Hari /Tanggal:Senin-Selasa/17–18 Desember 2007 Pukul:08.00 WIB – 16.00 WIB Tempat : Smile Plaza Restaurant.

Bagi UMKM mitra binaan BUMN yang berminat mengikuti kegiatan ini, dapat menghubungi : Sekretariat IMA Chapter Sulsel di Komp. Yakes Telkom Jl. A.P. Pettarani No. 4 Makassar. Tlp./ Fax 0411 – 830567 / 857066 atau CP : 081 34239 3837 (Nunu), 5768377 (Kiki).



Pentingnya sebuah merk by tommyamarja
November 13, 2007, 3:03 pm
Filed under: Artikel

saya mencoba menulis dengan sebuah judul “pentingnya sebuah merk”. saya terinspirasi menulis lewat blog ini, karena saya baru-baru membaca sebuah tulisan yang ditulis oleh Bapak Sabry Rasyid di Makassar Terkini, dimana dalam tulisan tersebut mengungkapkan sebuah kata yakni kata “merk”.

“Merk”, menurut saya penting untuk memberikan satu makna untuk permulaan usaha kita. seorang ibu yang memiliki ambisi untuk naik haji, jika rejeki bisnisnya lancar, akhirnya memutuskan menggunakan kata madinah,semakin kuat pula motivasinya dalam menjalankan bisnisnya. merk tadi menjadi jiwa dari bisnis sang ibu. agar mereknya menjadi besar maka segala etika bisnis yang diyakininya baik, selalu dijalankan.

Merk bukan hanya sebuah nama atau istilah. kita ingat ketika kita lahir orangtua kita memberi sbuah nama yang tentunya orangtua kita tidak akan sembarangan memberi sebuah nama terhadap kita atau anaknya yang baru lahir. begitulah pentingnya sebuah mer..

nilai kekuatan sebuah merk (brand equty) tergantung pada sebuah keseriusan kita menjalankan usaha atau bisnis kita.dari hasil survey bahwa pasar membeli merek bukan produk.artinya produk yang bagus, service yang memuaskan, harga yang pas,lokasi yang tepat,segmen pasar yang dipilih sesuai dengan produk yang ditawarkan, kesemuanya akan bermuara pada merk yang sedang anda bangun.

Nah, bagi yang ingin berbisnis atau berusaha merek merupakan pondasi yang penting untuk membangun dan mengembangkan perusahaan.

Oleh : Tommy Amarja S,

Seminar,Training,Exhibition Director IMA                      Chapter Sulsel
Sumber : Makassar Terkini, Memarketingkan SME oleh Sabri Rasyid



Kenali Perilaku Konsumen Anda, Agar perusahaan tetap survive by imasulsel
September 5, 2007, 1:41 am
Filed under: Guru ta' marketer

Penulis:  Dr. Ir. ZUL BAHREN, MM (VP. Organization IMA Chapter Sulsel)

 

Perilaku konsumen nyaris tidak bermanfaat dalam dunia monopoli. Lancape bisnis sudah berubah. Lupakan dunia monopoli. Persaingan adalah era bisnis saat ini. Persaingan terjadi dimana-mana. Persaingan ditandai dengan keanekaragaman. Keberagaman manusia. Berbeda budaya, berbeda perilaku, berbeda kebutuhan dan berbeda keingingan. Perilaku konsumen terasa semakin dibutuhkan di zaman kompetisi. Keberagaman juga terjadi dengan bermunculan banyak produsen. Kini produk makin terdiffrensiasi.  Ada produk umum, ada produk kualitas. Produk dengan berbeda ukuran, berbeda bentuk, berbeda warna, berbeda kemasan. Ada produk ditawarkan dengan berbagai keunggulan, produk isi ulang, dsb, sehingga konsumen semakin banyak pilihan. Bergaining konsumen semakin tinggi. Perilaku konsumen semakin diperlukan dengan bermunculan banyak produsen. Saat ini moda penjualan sangat bervariasi. Ada penawaran massal, ada toko discount, ada swalayan murah, penawaran dengan direct marketing,  belanja melalui TV, sampai kepada belanja on-line via internet. Perilaku konsumen juga semakin diperlukan dengan membanjirnya penjual. Promosi semakin marak. Mulai dari iklan  tradisional, informasi melalui getok tular  dari mulut ke mulut, iklan lewat media cetak, media elektronik sampai kepada promosi melalui situs web internet. Perilaku konsumen semakin dicari karena maraknya periklanan.

Untuk apa para marketer mengenali perilaku konsumen? Dengan memahami perilaku konsumen para pemasar akan memahami bagaimana konsumen melakukan proses pembelian. Apa saja yang dilakukan konsumen sebelum mereka melakukan pembelian. Tahapan-tahapan apa saja yang terjadi sampai seorang konsumen mengambil keputusan untuk membeli.

Ada 5 kunci utama yang harus dipahami oleh para marketer agar mereka mengenali perilaku konsumennya.

Pertama : Para marketer harus memahami segmentasi pelanggan. Mereka harus melakukan segmentasi konsumennya, yaitu dengan melakukan pengelompokan konsumen berdasarkan ciri-ciri yang sama. Pengelompokan ini dapat dilakukan berdasarkan wilayah geografis, berdasarkan usia, jenis kelamin, pendidikan, pekerjaan ataupun pendapatan.

Kedua      : Para marketer harus memahami sosial-budaya dari kosumennya. Mulai dari keluarga, kelompok refrensi, kelas sosial, suku, ras, agama  budaya maupun lintas budaya. Sebagai contoh Extra Joss merajai produk katagori energy drink untuk kemasan sachet. Tetapi di Medan Extra Joss tidak mau dikonsumsi orang.  Setelah diteliti ternyata Extra Joss menggunakan tagline iklan ”Ini biangnya…” Kata ini diartikan oleh orang Medan ” ini anjingnya…” Ketika Extra Joss di lalunching dengan tagline tersebut sukses dimana-mana, tetapi di Medan tidak. Kenapa? Karena kata ”biang” di Medan berarti ”anjing”. Bagi marketer yang jeli ada beberapa perilaku masyarakat sulsel yang dapat dijadikan peluang pasar, misalnya masyarakat sulsel suka memberi dan diberi. Jika ingin sukses produknya  digunakan konsumen sebaiknya pemasar dan penjual memberikan dulu dalam bentuk hadiah sebelum menjualnya ke konsumen. Masyarakat sulsel juga sangat antusias dengan ha-hal baru apalagi jika dikemas dengan iklan yang besar. Biasanya beramai ramai melakukan pembelian terhadap produk baru. Ini dapat menjadi peluang.

Ketiga   :     Kemudian marketer harus memahami phsikologi konsumen. Apa saja motivasi konsumen . Bagaimana keperibadian mereka. Apa sikap konsumen terhadap produk kita dan bagaimana konsumen melakukan proses belajar tentang produk. Misalnya dalam iklan pampers popok bayi di TV, warna kotoron bayi kenapa dibuat berwarna ”biru” mengapa tidak berwarna ”kuning” atau pada iklan pembalut wanita digambarkan cairannya bukan berwarna ”merah”, tetapi berwarna ”biru”. Ini berhubungan dengan pskikologi konsumen. Apabila digambarkan dengan warna aslinya justru dapat menimbulkan rasa jijik bagi konsumen. Konsumen tidak akan respek terhadap produk anda. Demikian pula kenapa iklan produk baru ditayangkan berulang-ulang baik di TV maupun di radio. Ini adalah pembelajaran konsumen. Dari hasil penelitian menunjukkan bahwa orang yang belajar mengetahui sesuatu, termasuk produk baru secara sungguh-sungguh dia memerlukan 1 s/d 3 kali pengulangan. Sedangkan konsumen yang tidak sungguh-sungguh ingin mengetahui perlu dijejali 8 s/d 12 kali pengulangan agar melekat dibenak mereka. Sebaliknya kenapa produk yang sudah lama tetap harus diiklankan, ditayangkan di TV dan radio atau media cetak, tetapi dengan rentang waktu yang relatif lebih lama dan tidak sesering produk baru. Dari hasil penelitian menunjukkan  umumnya ingatan manusia hanya bertahan sekitar 6 minggu. Apabila ingatan konsumen tidak dilakukan update konsumen akan lupa berganti dengan yang baru. Pikiran manusia seperti gelas. Apabila masuk  informasi baru yang lama akan tumpah dan menghilang. Oleh sebab itu perlu diisi ulang.

Keempat :  Untuk menghubungakan antara phsikologi konsumen dengan lingkungan sosial-budayanya para pemasar harus memahami komunikasi konsumen. Siapa sebagai menyampai pesan. Apakah anggota keluarga,  teman dekat, tokoh masyarakat, seorang pakar ataupun selebritis.  Kemudian Siapa yang menjadi audien, sangat ditentukan oleh demografi konsumen, seperti umur, gender dan status perkawinan atau sosial-budaya kosumen, kelas sosial, suku, ras dan agama konsumen.  Selanjutnya bagaimana isi pesan yang ingin disampaikan, media apa yang cocok digunakan. Apakah melalui media cetak, elektronik atau penyampaian langsung.  Dan tidak kalah pentingnya adalah umpan balik atau feedback. Feedback dapat dilakukan dengan survey, mengelola keluhan atau melalui kotak saran.

Kelima     :  Bagian terakhir yang harus dipahami marketer adalah Proses pengambilan keputusan pembelian. Bagian ini merupakan kombinasi dari keempat aspek sebelumnya, yaitu aspek marketing, aspek sosial-budaya, aspek phsikologi dan aspek komunikasi. Proses ini ada 3 tahap, yaitu : pengenalan kebutuhan, penelitian sebelum membeli dan penilaian alternatif. Misalnya seorang manajer wanita belakangan ini menghadapi pekerjaan menumpuk dikantor. Agar pekerjaannya dapat diselesaikan ia mengambil keputusan untuk menyelesaikan pekerjaannya dirumah. Untuk itu ia perlu komputer notebook. Sebelum membeli terlebih dahulu ia perlu melakukan penelitian. Pertama-tama dengan mengingat-ingat notebook yang pernah dikenalnya sebelum mencari informasi melalui iklan, dari teman dan koleganya atau dari agen penjual. Setelah diperoleh data baru manager tersebut melakukan penilaian alternatif tehadap beberapa pilihan yang terbaik. Kemudian baru memutuskan untuk membeli. Bagaimana konsumen melakukan proses adopsi terhadap produk juga merupakan hal yang perlu diketahui?   Kenapa ada produk yang cepat diterima konsumen, seperti telepon tanpa kabel? Sementara ada produk yang memerlukan waktu bertahun-tahun dan ada yang tidak diterima sama sekali oleh konsumen. Ini menyangkut proses adopsi. Contoh kasus produk tidak diterima konsumen, yaitu kasus mobil Mazda MR,  terjadi pada tahun 1990-an. Sebenarnya kenderaan ini cukup bagus dan murah, tetapi kenapa tidak diterima oleh konsumen. Rupanya singkatan MR adalah ”Mobil Rakyat”. Konsumen Indonesia tidak suka dengan sebutan rakyat karena pengertian rakyat terlalu jelata dan rendah. Dengan sebutan MR, mobil itu dipersepsi sebagai kenderaan rakyat jelata, rakyat kelas rendah. Padahal di Jerman sebutan mobil VW volkswagen atau mobil rakyat tidak menjadi masalah.

 

 * saat ini penulis bekerja pada CAM Manager PT Telkom, Tbk  Makassar, dapat di hub via email: bahren@telkom.co.id



Strategi Kampanye Pilkada (Sul-Sel) by imasulsel
Agustus 24, 2007, 2:11 am
Filed under: Uncategorized

 

 

Judul diatas sama sekali tidak bermaksud untuk mengulas atau meng-kampanye-kan Calon Gubernur Sul-Sel yang saat ini sedang giat ber-promosi. Saya hanya terinspirasi dari tulisan seorang pakar bahasa Indonesia pada sebuah media nasional, bahwa orang Indonesia lebih cepat mengenal kata atau merek yang terdiri dari dua suku kata. Mirip dengan strategi pembuatan merek yang menganjurkan menggunakan kata sederhana agar mudah diingat, mudah dibaca dan ditulis.

 

Faktanya, berbagai merek yang sukses dipasar ternyata membuktikan strategi dua suku kata tadi. Contoh sederhana, koran yang sedang Anda baca ini FAJAR terdiri dari dua suku kata. Bandingkan jika koran ini bernama FAJAR BARU, pasti daya tangkap kita akan berbeda dibanding merek yang pertama. Berbagai merek yang menguasai pasar seperti; NOKIA, HONDA, SONY, NIKON, SHARP, ACER dan lain-lain. Beberapa merek lokal-pun juga menganut strategi ini seperti; warkop PHOENAM, warkop UGI, minyak gosok cap TAWON, kacang AYAM.

 

Lantas bagaimana dengan merek yang menggunakan lebih dari dua suku kata? Tentu saja tetap bisa sukses dipasar dengan menggunakan berbagai strategi. Yang pasti effort dan waktu yang digunakan akan berbeda. Sebagai contoh, YAMAHA yang baru saja sukses menjadi market leader di awal tahun ini setelah melewati masa yang cukup panjang menghadapi dominasi Honda.

 

Beberapa merek yang panjang menggunakan strategi singkatan agar lebih mudah dikenali dan diingat. Presiden Indonesia Bpk. Susilo Bambang Yudhoyono disingkat SBY, merek Hawlett Packard disingkat HP, Studio 21 disingkat TO, Mc Donald dikenal dengan McD, Kentucky Fried Chicken menjadi KFC, jalan Botolempangan disingkat Botlem, Mal Ratu Indah menjadi MARI, Mal Panakkukang menjadi MP, PT. Telekomunikasi Indonesia dikenal dengan TELKOM, Excelcomindo disingkat XL, Ujungpandang Ekspress menjadi UPEKS dan lain sebagainya.

 

Kembali ke judul diatas, saya yakin Tim Sukses Cagub telah memikirkan berbagai strategi untuk menguasai benak calon pemilih. Termasuk strategi pemilihan singkatan bagi nama calon untuk menjadi materi promosi. Konsep memasarkan Cagub adalah personal branding strategy. Karena nama Cagub juga sama dengan merek. Sehingga menjadi penting untuk mempelajari dan meng-implementasi-kan konsep personal branding ini. Perlu diingat bahwa dalam pemasaran, tiada lain bertujuan menciptakan persepsi terhadap merek untuk masuk ke benak pasar (mind share) hingga menguasai hati pemilih (heart share).

 

Mengapa heart share? Karena para pemilih kita adalah pasar yang rasional dan akan bertindak sesuai dengan hati nuraninya. Selamat merebut hati pasar.

 

Penulis: Sabri Rasyid

Sekjen IMA Sulsel

http://sabrirasyid.wordpress.com/2007/06/27/strategi-kampanye-pilkada-sul-sel/